Memilih Sekolah

“Mba Tyas nasibnya bagaimana ? Pengalaman bersekolah mba Tyas ga karu-karuan. Itu dosa Ayah yang tidak bisa Ayah maafkan.”

Saya ingat percakapan Ayah saya dan saya suatu hari saat duduk berdua…

Pada saat itu saya baru masuk dunia bekerja memasuki tahun kurang lebih tahun kelima.

Saya memang tidak seberuntung saudara atau teman-teman dalam hal bersekolah. Saya tidak mendapatkan pengalaman yang baik dalam hal bersekolah. Kejadian demi kejadian terjadi diluar kendali saya dan dengan waktu irregular dan tidak menentu.

Beda dengan orangtua jaman sekarang yang sudah mengerti untuk “mindful” atas kesadaran anak terhadap lingkungannya, rasa aman dan nyaman yang mendorong dan mengarahkan apa yang dia suka atau tidak suka, termasuk peduli atau kepekaan kita sebagai orang tua.

“Dulu ibu ga pernah nanya-nanya, kamu mau sekolah disini atau disitu? Ibu masukin aja.”

Dalam hati saya tersenyum.

Continue reading

Impact Education Outcome

Bagaimana dampak (impact) yang akan terjadi dari sebuah education/learning outcome yang baik ?

Ini adalah bagian terakhir dari pembelajaran mengenai Education/Learning Outcome.

Mengingat kembali obrolan saya dengan salah satu tokoh dan praktisi pendidikan di Indonesia.

“Tyas.. jangan romantisasikan perjalanan pendidikan artis-artis itu…”

Teguran itu menempel segitu lekatnya bagi saya.

Continue reading

Proses Education Outcome

Ketiga. Bagaimana proses education outcome yang sebenarnya ?

Kita telah mengerti sekarang apa arti education/learning outcome dan mengapa education/learning outcome penting.

Dapat kita pahami sekarang pentingnya education/learning outcome bagi anak kita tapi juga bagi kita sebagai orangtua yang ingin mendukung cita-cita anak kita.

Tapi bagaimana prosesnya ?

Mari belajar bersama, saya coba buatkan ilustrasinya.

Continue reading

Bersekolah

Hallo teman belajar bersama.

Mari kita bahas bersekolah.

Pertama dengan banyaknya perubahan sejak dan akibat dari global pandemi yang terjadi, apa arti proses belajar dalam era new normal kini ?

Pendapat saya,

Pertama. Di Indonesia melalui program Merdeka Belajar kesempatan dalam bersekolah atau mendapat pendidikan dengan lebih adil

Kedua. Mengembalikan peran orangtua dalam keterlibatannya untuk pendidikan anak

Ketiga. Proses belajar mengajar yang baru.

Mari saya jelaskan.

Continue reading

Mengapa Education Outcome Penting ?

Kedua. Mengapa kita perlu memahami “education outcome” ?

Bagi saya apabila saya ditanya pertanyaan ini adalah agar anak saya jelas memahami perjalanan pendidikannya dan agar orangtua sebagai orang yang ikut dalam perjalanan tidak salah kaprah dalam membantu anak meraih cita-cita.

Kejelasan.  

Menurut saya, yang paling penting dari sebuah perjalanan apapun itu adalah tujuannya.

Apabila kita tahu tujuan kita maka akan lebih mudah bagi kita untuk merencanakan perjalanan melalui pilihan-pilihan program studi, pengalaman belajar menuju tempat yang kita inginkan.

Memiliki kejelasan atas tujuan yang diharapkan akan membentuk suatu fokus atas hasil yang ingin dicapai. Apabila kita memiliki tujuan yang jelas pada hasil yang ingin dicapai maka setiap akhir suatu tahap pembelajaran dengan demikian kita akan mempermudah bagi anak untuk memilih langkah berikutnya karena gambaran yang jelas dari tujuan dan harapan cita-cita anak kita kelaknya.

Continue reading

Harga sebuah karya

Melanjutkan pembahasan mengenai education outcome bagi anak-anak kita, bagian dari rangkaian Teman Belajar Bersama. Suatu kegiatan pembelajaran saya sebagai orangtua dalam bidang pendidikan.

Dalam tulisan kali ini saya ingin mencoba memberikan beberapa contoh pengalaman berkarya anak yang didukung orangtuanya atau dalam bimbingan orangtua.

Arti harga sebuah karya dimaksudkan untuk menjelaskan harganya bagi anak sebagai salah satu proses pembelajaran sejalan dengan pilihan education outcome mereka.

Saat ini saya telah mengumpulkan beberapa contoh karya dalam berbagai bentuk. Harapan saya melalui keragaman ini dapat memberikan gambaran dan warna yang cukup luas dan saling melengkapi sesuai dengan keunikan masing-masing tentunya.

Perkenalkan, Aeshninna (Nina) Azzahra, remaja berusia 12 tahun asal SMPN 12 Gresik, Jawa Timur. Ini adalah sebuah contoh karya sebuah aksi.

Apabila kita mengenal Greta Thunberg, aktivis lingkungan Swedia yang telah mendapatkan pengakuan internasional karena mempromosikan pandangan bahwa umat manusia menghadapi krisis eksistensial yang muncul dari perubahan iklim maka di Indonesia pun memiliki anak muda yang tidak kalah kritis yang mampu menyuarakan kekecewaannya dengan mengirimkan surat ke beberapa pemimpin negara maju seperti Perdana Menteri Australia Scout Morisson, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Presiden AS Donald Trump.

Continue reading

Education Outcome

Kita memasuki era dimana gelar tidak menjamin kompetensi. KIta memasuki era dimana lulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. – Nadiem Makarim.

Saya setuju dengan pendapat tersebut.

Berawal dengan keinginan menulis tentang pengertian education outcome, sekarang menjadi sedikit lebih relevan dan menarik karena perubahan kondisi kita semua berkehidupan akibat dampak dari pandemi Corona atau Covid-19.

Kita mulai dari pengertian Education Outcome itu sendiri.

Pada intinya, pengertian education outcome adalah hasil suatu proses atau perjalanan pendidikan seseorang.

Seperti itu pengertiannya, tidak begitu mudah proses menjalankannya.

Melalui diskusi dan pembicaraan saya dengan beberapa pakar pendidikan, teman dan praktisi pendidikan di awal tahun 2020 ini menjadikan #temanbelajarbersama dan mendorong saya untuk membahas disini.

Tapi dengan banyaknya perubahan sejak akhir tahun lalu dan akibat dari global pandemi yang terjadi, apa arti proses sebuah education outcome dalam era new normal kini ?

Pendapat saya, proses education outcome dengan kesempatan yang lebih adil.

Tapi sebelumnya, mari kita lengkapi diri kita dan mengerti lebih jelas tentang Education Outcome.

Untuk mempermudah saya buatkan penjelasan atas 3 pertanyaan

  1. Apa pengertian education outcome ?
  2. Mengapa kita perlu memahami “education outcome”?
  3. Bagaimana proses education outcome yang sebenarnya ?

Mari kita belajar bersama.

Pertama. Apa pengertian Education atau Learning Outcome ?

Education/Learning Outcome adalah

  • hasil dari pencapaian dan progress seseorang
  • akibat dari perencanaan pendidikan dan pengalaman pembelajaran yang baik
  • terlihat dari suatu indikasi kesiapan karir dan peningkatan kinerja
  • dan kepuasan pelajar secara keseluruhan

atau, menurut Creating Learning Outcomes Standford ,

definisi dari Education / Learning Outcomes adalah pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang harus dimiliki siswa secara individu dan dapat ditunjukkan setelah menyelesaikan pengalaman belajar atau urutan pengalaman belajar.

Lalu, pengertian outcome dalam gambaran pendidikan yang lebih jelas, seperti apa bentuknya ?

  • Anak-anak memiliki rasa identitas yang kuat (Children have a strong sense of identity).
  • Anak-anak terhubung dengan dan berkontribusi pada dunia mereka (Children are connected with and contribute to their world).
  • Anak-anak memiliki rasa sejahtera yang kuat. (Children have a strong sense of wellbeing).
  • Anak-anak percaya diri dan melibatkan pembelajar (Children are confident and involved learners).
  • Anak-anak adalah komunikator yang efektif (Children are effective communicators).

Sepertinya tampak bagaikan sebuah proses manusia menjadi orang yang seutuhnya ya ?

Setiap gambaran hasil apabila kita orangtua refleksikan pada proses belajaran diri kita sendiri perlu cukup waktu dan kematangan diri untuk mencapai setiap hal diatas.

Jadi education atau learning outcome membuka pengertian kita bahwa dalam hal pendidikan dan proses pembelajaran anak, kita perlu membuat rencana. Karena outcome adalah hasil akhir.

Artinya, rencana menghasilkan output, lalu output akan menghasilkan outcome.

Sumber. https://encoura.org/defining-educational-outcomes-measuring-impact/

Berikutnya, Mengapa kita perlu memahami education outcome ?

Kembali ke Teman Belajar Bersama halaman utama.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Masa belajar anak

Ini adalah sebuah pemahaman.

Pemahaman yang saya dapatkan seiring dengan pengalaman saya di dunia sosial dan pendidikan. Sebuah pemahaman yang akhirnya saya pegang dan saya coba dalam masa belajar anak dan keterlibatan saya sebagai orang tua.

Saya akan mencoba memberikan gambaran ilustrasi dengan harapan memudahkan bagi teman belajar bersama untuk dimengerti.

Berikut gambarannya.

Pertama.

Masa anak belajar berbanding terbalik dengan besaran keterlibatan orangtua.

Kedua.

Contoh anak berumur 5 tahun dan keterlibatan orangtuanya.

Ketiga.

Contoh anak berumur 12 tahun dan keterlibatan orangtuanya.

Keempat.

Contoh anak berumur 19 tahun dan keterlibatan orang tua dimasanya.

Kelima.

Contoh anak berumur 28 tahun dan keterlibatan orangtua dimasanya.

Disaat itulah kita sebagai orangtua bertanya pada diri kita sendiri.

Apakah bekal yang telah saya berikan selama ini cukup ?

Apakah tidak perlu bantuan saya sama sekali ?

Tentunya semakin utuh seseorang semakin besar ilmu dan tabungan pengalamannya.

Sebaliknya, semakin besar umur anak, semakin siap dan cukup pembekalan ilmu, pengalaman, kematangan dewasanya, keutuhan kepercayaan dirinya terhadap cita-cita dan yang membuat dia bahagia dalam berkarya artinya semakin mandiri dia semakin kecil keterlibatan orang tua.

Keenam. Sebuah kesimpulan.

Kesimpulannya adalah, bahwa dalam gambaran ilustrasi diatas dapat dipahami bahwa semakin kecil umur anak, semakin besar diperlukan peran orangtua dalam mendidiknya. Semakin besar anak, semakin kecil peran orang dalam proses pendidikannya.

Artinya, semakin muda anak maka kejelasan, struktur, kenyamanan dan rasa aman sangat dibutuhkan.

Lalu kapan anak butuh orangtua menjadi teman mereka ? Menurut saya, adalah pada saat anak mulai mengerti tanggung jawab mereka secara dewasa muda. Setengah jalan. Kedewasaan dan kesiapan anak tentunya berbeda satu dengan yang lainnya.

Apabila manusia terlahir dari kertas kosong. Dari Nol. Anak tentunya akan bertindak belajar dari dari penglihatan, pengamatan, dan pengalaman yang diberikan disekitarnya sehingga secara tidak sadar melakukan hal-hal yang sama dengan lingkungan sekitar.

Semakin kecil umur anak semakin banyak bantuan diperlukan dari orangtua. Semakin besar peran orangtua untuk dapat mengarahkan, memberi pola, pengertian baik dan tidak, peran orangtua untuk memimpin anak belajar dari titik nol. Akibatnya, pola berpikir, besaran ilmu, karakter akan terbentuk dari mulai dia terlahir akibat dari siapa yang memimpinnya.

Semakin besar umur anak semakin dia menjadi siap dan mandirinya pemikiran mereka dan semakin dia membentuk dirinya sendiri. Semakin dia tahu apa yang dia mau, memiliki gambaran mengenai siapa dirinya. Pada saat itulah orangtua beralih peran menjadi teman baik dan sahabat mereka.

Silahkan tonton video ini untuk belajar memahami dampak dan akibat dari pengabaian emosional masa kecil.

Karena saat dia percaya pada dirinya sendiri, peran orang tua berganti menjadi teman belajar bersama. Menjadi supporter kuat. Pendukung anak. Saya pun disarankan bahwa  jangan jadi teman saat diumur anak lagi butuh pengarahan. Anak butuh orang yang dapat membimbing untuk mengarahkan jalan.

Lalu, bagaimana apabila orangtuanya hanya salah satu yang dapat hadir.

Saya pernah ditanya oleh seorang teman dimana suaminya beberapa tahun bekerja di luar kota, sehingga interaksi anak sangat terbatas waktunya. Pertanyaan teman saya adalah, apakah cukup ?

Menurut saya, si ayah harus berusaha menambal kekurangan waktu atau hutang waktu yang dibutuhkan anak. Karena kebutuhan tersebut tidak akan hilang. Seberapa waktu yang dapat mengisi kualitas yang dibutuhkan anak.

Karena itu saya sangat menghormati single parents yang memiliki challenge yang lebih besar, yaitu menjadi ibu sekaligus ayah bagi kebutuhan anak. Atau sebaliknya. Memberikan pendidikan, pengajaran dan pengalaman yang berbeda dari sisi ayah juga sisi ibu. Karena memang, ibu dan ayah memiliki kekuatan yang berbeda. Luar biasa sama besar dan sama pentingnya. Kreatifitas sangat dibutuhkan dalam masa dan kondisi seperti ini. Saya pribadipun dibesarkan dalam keadaan orangtua berpisah. Sehingga pengalaman ini cukup dekat dengan saya.

Jadi untuk menjawab kapan orangtua dapat beralih peran dan menjadi teman pendidikan anak? Menurut pendapat saya adalah saat seorang anak cukup bekal pengalaman, pembekalan ilmu, kedewasaan dan kepercayaan dirinya cukup untuk masuk dapat berdiri sendiri atas kehidupannya sendiri. Tentunya merupakan sebuah kesepakatan antara anak dan orangtuanya dalam hal ini. Tidak berdiri sendiri ataupun berat sebelah.

Pertanyaan lanjutan adalah,

Apa sebenarnya fungsi sekolah ?

Bagaimana kita, orangtua dapat membantu anak menggapai cita-citanya ?

Bagaimana education outcome dapat membantu cita-cita anak ?

Apa pengertian dari education outcome ?

Bagaimana posisi orangtua dalam perencanaan education outcome ?

Mari lanjutkan untuk membahas melalui tulisan saya berikutnya, the education outcome.

Terima kasih atas perhatiannya teman-teman. Khusus bagi yang ingin membahas blog post ini lebih lanjut, mari bahas di kolom komentar dibawah ini. Ditunggu !

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Sebelum pergi tonton video berikut ini dulu yuk

Teman Belajar Bersama

Belum lama ini, sebelum masuk masa pandemi, saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Education Outcome lebih dalam kaitannya pada dunia sosial. Kesempatan tersebut membangkitkan kembali semangat saya, menyegarkan kembali passion saya di dunia sosial dan pendidikan.

Dalam perjalanan saya untuk belajar lebih dalam saya mulai dengan bertemu dengan teman-teman lama yang memiliki pengalaman di dunia pendidikan. Sayapun mulai berkenalan dan juga bertemu kembali dengan teman-teman yang memiliki passion di dunia sosial dan pendidikan.

Melalui perjalanan yang saya lalui, saya menerima banyak pendapat dan masukan baik dari proses maupun hasil akhir education outcome yang kemudian membuka lebih lebar sudut pandang saya. Seperti disiram air segar saya terdorong untuk merangkum sebuah kesimpulan, tentunya dari sudut pandang saya.

Biasanya, education outcome dirasakan penting bagi kita dalam tujuannya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak atau seringkali kita dengar agar nantinya pemimpin masa depan Indonesia dapat memenuhi kapasitas yang diperlukan dalam tantangan global.

Tapi melalui pertemuan saya dengan teman-teman di dunia pendidikan membuat saya kembali merefleksikan apa yang penting dan apa yang realistis dalam kehidupan nyata.

Saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian pembahasan.

  1. Masa belajar anak
  2. Education Outcome pengertiannya
  3. Mengapa Education Outcome penting?
  4. Bagaimana proses education outcome?
  5. Impact / dampak dari education outcome
  6. Harga sebuah karya.
  7. Bersekolah
  8. Memilih Sekolah

Topik-topik diatas dimaksudkan untuk menjelaskan pemahaman, keresahan juga mencoba untuk menawarkan buah pemikiran saya bagi teman pembaca dalam bidang pendidikan.

Beberapa topik pembahasan yang siap untuk disimak. Tapi sejalan dengan perkembangan, sewaktu-waktu saya akan tambahkan topik baru atau pembahasan demi pembahasan yang menurut saya penting untuk dimengerti dan akan saya kumpulkan disini.

Saya mencoba menawarkan langkah prakarsa yang saya namakan Teman Belajar Bersama. Suatu aktifitas yang ingin saya jajaki untuk belajar dan mengajak belajar pendidikan bersama. Niat saya, menjadi teman yang menemani dalam perjalanan, menjadi teman untuk sama sama belajar pendidikan bersama. Menjadi seseorang yang dapat memberikan semangat, seperti selayaknya seseorang yang dulu saya butuhkan waktu kecil dan muda dulu. I want to be that someone who you needed when you were younger. An encourager.

#TemanBelajarBersama adalah suatu esensi yang ditangkap oleh Bung Simon dari Sinambung Indonesia yang berawal dari sebuah semangat. Sebuah semangat dari saya, Tyas Handayani, yang berarti, si pemberi daya dari dalam hati.

Semoga berkenan.

Salam pendidikan.

Silahkan lanjut bacaan disini.

Terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan, dukungan dan bimbingan dari teman-teman:

  • Mba Hety dan Bapak Hamid Abidin dari Filantropi Indonesia
  • Mas Adit dan Bung Simon  dari Sinambung Indonesia
  • Mba Stien dari Pusat Studi Pelatihan dan Kebijakan Pendidikan Indonesia
  • Mas Bukik dari Kampus Guru Cikal
  • Bapak Tatang Suratno dari Universitas Pendidikan Indonesia
  • Bapak Ben Suadi, Founder The Transformation Institute, Former Director PSF-School Development Outreach
  • Bapak Bambang Irianto F, Pakar dan Konsultan pendidikan Indonesia, Former Advisory Putera Sampoerna Foundation untuk Sampoerna Academy dan PSF-School Development Outreach.
  • Mas Yosea Kurnianto, Deputy Director SDG Academy Indonesia (an Initiative of Tanoto Foundation, UNDP & Bappenas)
  • Mas Timmy Widjaja, Sampoerna Academy Graduates, batch USA.
  • DR Sendy Widjaja, Founder Indo Advance, Former Head of Cultural Putera Sampoerna Foundation
  • Mas Ramya Prajna, coFounder&CEO ThinkWeb & coFounder Semua Murid Semua Guru

Izinkan saya terus menjadi teman belajar bersama kalian.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project inquiries, tyas@bangwinconsulting.com