Education Outcome

Berawal dengan keinginan menulis tentang pengertian education outcome, sekarang menjadi sedikit lebih relevan dan menarik karena perubahan kondisi kita semua berkehidupan akibat dampak dari pandemi Corona atau Covid-19.

Kita mulai dari pengertian Education Outcome itu sendiri.

Pada intinya, pengertian education outcome adalah hasil suatu proses atau perjalanan pendidikan seseorang.

Seperti itu pengertiannya, tidak begitu mudah proses menjalankannya.

Melalui diskusi dan pembicaraan saya dengan beberapa pakar pendidikan, teman dan praktisi pendidikan di awal tahun 2020 ini menjadikan #temanbelajarbersama dan mendorong saya untuk membahas disini.

Tapi dengan banyaknya perubahan sejak akhir tahun lalu dan akibat dari global pandemi yang terjadi, apa arti proses sebuah education outcome dalam era new normal kini ?

Pendapat saya,

Pertama. Proses education outcome dengan kesempatan yang lebih adil

Kedua. Mengembalikan peran orangtua sebagai pembimbing pendidikan anak

Ketiga. Proses belajar mengajar yang baru.

Mari saya jelaskan.

Pertama. Kesempatan yang lebih adil.

Sejak akhir tahun lalu 2019 ada perubahan yang cukup signifikan yang diterapkan pada sistem pendidikan Indonesia melalui Mas Nadiem Makarim, mas Menteri kita yang baru untuk Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Apa yang berubah dalam sistem pendidikan di Indonesia yang menarik dan mendukung di jaman new normal ini ?

Jadi bagaimana sistem pendidikan Indonesia dapat memberikan kesempatan bagi siapapun untuk mendapatkan akses dan juga kualitas pendidikan yang lebih baik dan juga memahami bahwa biaya apalagi gengsi bukan lagi jadi sebuah nilai yang dapat dipertimbangkan.

Inisiatif atau gagasan baru dari pemerintah mendorong konsep belajar mengajar dengan cara yang baru. Relevansi terhadap kebijakan baru dan akibat dari pandemi ini saya rasakan penting bagi teman-teman pembaca disini.

  1. Merdeka Belajar

Suatu kebijakan baru yang dapat membantu agar guru dapat lebih fokus pada pembelajaran siswa dan siswa pun bisa lebih banyak belajar.

Sumber. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/empat-pokok-kebijakan-merdeka-belajar

  1. Kampus Merdeka

Kebijakan Kampus Merdeka adalah kebijakan berkelanjutan dari inisiatif awal Merdeka Belajar yang telah dikeluarkan sebelumnya. Didalamnya ada 4 kebijakan dalam Kampus Merdeka. Diantaranya adalah :

  • Kebijakan pertama

Otonomi bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi (prodi) baru. Otonomi ini diberikan jika PTN dan PTS tersebut memiliki akreditasi A dan B, dan telah melakukan kerja sama dengan organisasi dan/atau universitas yang masuk dalam QS Top 100 World Universities. Pengecualian berlaku untuk prodi kesehatan dan pendidikan. Ditambahkan oleh Mendikbud, “Seluruh prodi baru akan otomatis mendapatkan akreditasi C”.

  • Kebijakan kedua.

Program re-akreditasi yang bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat. Mendatang, akreditasi yang sudah ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tetap berlaku selama 5 tahun namun akan diperbaharui secara otomatis.

  • Kebijakan ketiga.

Kebebasan bagi PTN (Perguruan Tinggi Negri) Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH). Kemendikbud akan mempermudah persyaratan PTN BLU dan Satker untuk menjadi PTN BH tanpa terikat status akreditasi.

  • Kebijakan keempat.

Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi (Program Pendidikan) dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (sks). “Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, jadi mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak sks di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks. Ditambah, mahasiswa juga dapat mengambil sks di prodi lain di dalam kampusnya sebanyak satu semester dari total semester yang harus ditempuh. Ini tidak berlaku untuk prodi kesehatan,”

Sumber. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/01/mendikbud-luncurkan-empat-kebijakan-merdeka-belajar-kampus-merdeka

Dengan kebijakan dan inisiatif baru ini dapat kita pahami bahwa tentunya akan berpengaruh terhadap proses dan hasil education outcome anak-anak di jaman new normal.

Bahwa anak-anak di jaman new normal akan memiliki kesempatan yang adil, tidak terbatas atas suatu minat atau program pendidikan tertentu. Akses pendidikan dan belajar yang terbuka luas benar-benar memberikan kemerdekaan dalam proses belajar-mengajar, bagi yang diajarkan maupun yang memiliki keinginan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. Relevansi terhadap skill yang dibutuhkan di dunia nyata dan apa yang perlu dipersiapkan menjadi terbuka. Kemerdekaan belajar yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia dapat tercapai tujuannya.

Kedua. Mengembalikan peran orangtua sebagai pembimbing pendidikan anak

Melalui pengalaman beberapa bulan belakangan ini secara langsung membuat kita dapat memahami bahwa melalui proses belajar-mengajar di rumah dapat membuka mata kita bahwa teknologi, melalui digital, membuat akses untuk belajar apapun yang kita mau jadi tidak terbatas. Home base learning atau bersekolah dirumah mengajarkan 2 hal.

Pertama, bahwa metode belajar mengajar dan berinteraksi melalui bantuan medium alat digitalisasi.

dan kedua, mengembalikan peran orangtua dalam proses belajar anak dan pendidikan. Tanggung jawab atas pendidikan anak harus dikembalikan kepada orangtua dan bukan guru atau sekolah. Itu karenanya saya rasa perlunya untuk berbagi pendapat saya sebelumnya atas masa anak belajar berbanding terbalik dengan besaran keterlibatan orangtuanya. Silahkan dibaca disini.

Ketiga. Proses belajar mengajar yang baru.

Akibat pandemi ini, demi kebaikan kita semua, kita perlu untuk melakukan physical distancing dengan stay-at-home, menjalankan kehidupan normal di rumah saja. Semua proses kehidupan termasuk bersekolah diharuskan untuk dilakukan di rumah. Semua proses belajar mengajar termasuk kegiatan bersekolah kini dilakukan melalui platform digital.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka baik guru dengan sekolah, murid juga orangtua harus belajar dan mulai terbiasa untuk menggunakan perangkat digital dalam kesehariannya untuk bersekolah.

Kondisi pandemi ini memaksakan orangtua untuk ikut mengerti dan juga belajar proses belajar-mengajar yang baru. Keharusan kita semua untuk tetap #dirumahaja mengajarkan kepada kita, untuk dapat mengevaluasi ulang sebuah nilai, kepentingan dari sebuah nilai dan bentuk sebuah nilai. Termasuk bersekolah.

Beberapa istilah belajar mengajar yang mungkin jadi terangkat akibat dari perubahan atau inisiatif Kementerian Pendidikan dan kebudayaan maupun aktifitas belajar dirumah antara lain seperti MOOC (massive open online courses), Home Based Learning (HBL) , Blended learning  bersama project based learning. 

Dalam setiap link diatas dapat disimak definisi dan konsep dari masing-masing cara belajar mengajar tersebut.

Proses belajar yang baru memberikan keterbukaan langkah demi langkah dalam memahami jalur dan ilmu pendidikan anak sesuai dengan pilihannya. papun pilihannya, ilmu akademika, ilmu praktek dan ilmu ketrampilan dapat terintegrasi dan diakses secara langsung, tidak terbatas. Kita dapat melihat dari pengalaman sendiri atau bagaimana anak kita berinteraksi dengan teknologi. 

Anak lebih siap untuk berkarya. Dan karya secara langsung dapat dihargai. Proses pembelajaran terjadi secara langsung. Semua mendapatkan kesempatan untuk saling kenal di manapun kita berada, juga dapat saling mendukung, serta mendapatkan kesempatan penuh dalam berjejaring dan berkolaborasi. Melibatkan proses pembelajaran dalam suatu aktifitas bersama, secara terstruktur, bertingkat dan terbuka bagi siapa saja yang mau ikut serta didalamnya. Kesempatan membangun portfolionya dari awal, dan belajar untuk mengerti bagaimana mengarahkan sebuah minat, menjadikan buah karya, bagaimana mengusahakan agar karya dapat dihargai oleh orang lain dan membangun karya menjadi sebuah pekerjaan atau bisnis. (sebagai contoh, baca harga sebuah karya disini)

Ada beberapa tantangan dalam proses menghasilkan education outcome yang baik. Yang pertama menurut pendapat saya adalah menjaga agar proses pendidikan jadi lebih realistis. Itu yang pertama. Tidak hanya realistis terhadap apa yang dibutuhkan di masa depan (dalam hal ini maksudnya adalah relevansi skill dan kompetensi) tapi lebih penting dalam proses belajar anak agar realistis dengan kehidupan, seperti realistis terhadap kondisi, situasi, dikala sedang belajar atau untuk dapat mempertimbangkan perubahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu di masa depan. Belajar untuk mencari jalan keluar atau bagaimana bernavigasi bilamana dalam keadaan tidak berhasil. Belajar dengan melihat fleksibilitas sebagai salah satu cara bukan sekedar jalan keluar.

Kedua. Melalui perubahan dan ketersediaan teknologi baru atau cara baru, dapat mendorong orangtua untuk dapat siap dalam mendukung minat dan bakat anak. Kesiapan memahami bagaimana cara untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agar dapat membantu membentuk karya menjadi suatu solusi atau perbaikan kehidupan banyak orang di masa depan. Realistis dan nyata. Bilamana orang tua selalu mau ikutserta langkah demi langkah. Agar apapun kondisinya, anak mendapat cukup dukungan, mendapat semangat yang dibutuhkan juga dalam mencari jalan keluar.

Dalam setiap langkah dan proses yang berjalan, orangtua dapat mendampingi anak terutama saat menemukan suatu medium berbasis komunitas yang saling mendukung. Tidak bisa dilepas begitu saja dalam pergaulan dan belajar.

Ini tentunya membuat anak dan orangtua merasa aman dan nyaman dalam menjalani proses dalam menghasilkan education outcome yang baik.

Betul. Dibutuhkan keseimbangan antara aspirasi dan dunia nyata. Agar anak kita dapat membayangkan masa depannya dan juga memiliki ketangguhan dalam usaha untuk mencapainya. Kini melalui kegiatan seperti kelompok belajar bersama di online dapat memberikan akses serta kemudahan bagi anak dalam mempertimbangkannya.

Sehingga cita-cita seorang anak tidak lagi hanya satu, tapi bisa beberapa. Biarkan anak bereksplorasi tanpa batas, biarkan anak mencoba untuk berubah dan menyesuaikan diri dan mencoba banyak hal sesuai dengan keinginannya, bukan kemampuannya.

Mari temani anak belajar, menjadi teman anak dalam belajar. Bersama-sama.

Terima kasih atas waktunya teman-teman. Ditunggu input dan masukannya di kolom komentar dibawah ini ya.

Berikutnya, lanjutkan baca teman belajar bersama dengan topik harga sebuah karya.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Here’s a point of view on education. What do you think ?

3 thoughts on “Education Outcome

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s