Education Outcome

Berawal dengan keinginan menulis tentang pengertian education outcome, sekarang menjadi sedikit lebih relevan dan menarik karena perubahan kondisi kita semua berkehidupan akibat dampak dari pandemi Corona atau Covid-19.

Kita mulai dari pengertian Education Outcome itu sendiri.

Pada intinya, pengertian education outcome adalah hasil suatu proses atau perjalanan pendidikan seseorang.

Seperti itu pengertiannya, tidak begitu mudah proses menjalankannya.

Melalui diskusi dan pembicaraan saya dengan beberapa pakar pendidikan, teman dan praktisi pendidikan di awal tahun 2020 ini menjadikan #temanbelajarbersama dan mendorong saya untuk membahas disini.

Tapi dengan banyaknya perubahan sejak akhir tahun lalu dan akibat dari global pandemi yang terjadi, apa arti proses sebuah education outcome dalam era new normal kini ?

Pendapat saya,

Pertama. Proses education outcome dengan kesempatan yang lebih adil

Kedua. Mengembalikan peran orangtua sebagai pembimbing pendidikan anak

Ketiga. Proses belajar mengajar yang baru.

Mari saya jelaskan.

Pertama. Kesempatan yang lebih adil.

Sejak akhir tahun lalu 2019 ada perubahan yang cukup signifikan yang diterapkan pada sistem pendidikan Indonesia melalui Mas Nadiem Makarim, mas Menteri kita yang baru untuk Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Apa yang berubah dalam sistem pendidikan di Indonesia yang menarik dan mendukung di jaman new normal ini ?

Jadi bagaimana sistem pendidikan Indonesia dapat memberikan kesempatan bagi siapapun untuk mendapatkan akses dan juga kualitas pendidikan yang lebih baik dan juga memahami bahwa biaya apalagi gengsi bukan lagi jadi sebuah nilai yang dapat dipertimbangkan.

Inisiatif atau gagasan baru dari pemerintah mendorong konsep belajar mengajar dengan cara yang baru. Relevansi terhadap kebijakan baru dan akibat dari pandemi ini saya rasakan penting bagi teman-teman pembaca disini.

  1. Merdeka Belajar

Suatu kebijakan baru yang dapat membantu agar guru dapat lebih fokus pada pembelajaran siswa dan siswa pun bisa lebih banyak belajar.

Sumber. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/12/empat-pokok-kebijakan-merdeka-belajar

  1. Kampus Merdeka

Kebijakan Kampus Merdeka adalah kebijakan berkelanjutan dari inisiatif awal Merdeka Belajar yang telah dikeluarkan sebelumnya. Didalamnya ada 4 kebijakan dalam Kampus Merdeka. Diantaranya adalah :

  • Kebijakan pertama

Otonomi bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Swasta (PTS) untuk melakukan pembukaan atau pendirian program studi (prodi) baru. Otonomi ini diberikan jika PTN dan PTS tersebut memiliki akreditasi A dan B, dan telah melakukan kerja sama dengan organisasi dan/atau universitas yang masuk dalam QS Top 100 World Universities. Pengecualian berlaku untuk prodi kesehatan dan pendidikan. Ditambahkan oleh Mendikbud, “Seluruh prodi baru akan otomatis mendapatkan akreditasi C”.

  • Kebijakan kedua.

Program re-akreditasi yang bersifat otomatis untuk seluruh peringkat dan bersifat sukarela bagi perguruan tinggi dan prodi yang sudah siap naik peringkat. Mendatang, akreditasi yang sudah ditetapkan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) tetap berlaku selama 5 tahun namun akan diperbaharui secara otomatis.

  • Kebijakan ketiga.

Kebebasan bagi PTN (Perguruan Tinggi Negri) Badan Layanan Umum (BLU) dan Satuan Kerja (Satker) untuk menjadi PTN Badan Hukum (PTN BH). Kemendikbud akan mempermudah persyaratan PTN BLU dan Satker untuk menjadi PTN BH tanpa terikat status akreditasi.

  • Kebijakan keempat.

Memberikan hak kepada mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar prodi (Program Pendidikan) dan melakukan perubahan definisi Satuan Kredit Semester (sks). “Perguruan tinggi wajib memberikan hak bagi mahasiswa untuk secara sukarela, jadi mahasiswa boleh mengambil ataupun tidak sks di luar kampusnya sebanyak dua semester atau setara dengan 40 sks. Ditambah, mahasiswa juga dapat mengambil sks di prodi lain di dalam kampusnya sebanyak satu semester dari total semester yang harus ditempuh. Ini tidak berlaku untuk prodi kesehatan,”

Sumber. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/01/mendikbud-luncurkan-empat-kebijakan-merdeka-belajar-kampus-merdeka

Dengan kebijakan dan inisiatif baru ini dapat kita pahami bahwa tentunya akan berpengaruh terhadap proses dan hasil education outcome anak-anak di jaman new normal.

Bahwa anak-anak di jaman new normal akan memiliki kesempatan yang adil, tidak terbatas atas suatu minat atau program pendidikan tertentu. Akses pendidikan dan belajar yang terbuka luas benar-benar memberikan kemerdekaan dalam proses belajar-mengajar, bagi yang diajarkan maupun yang memiliki keinginan untuk berbagi ilmu dan pengalamannya. Relevansi terhadap skill yang dibutuhkan di dunia nyata dan apa yang perlu dipersiapkan menjadi terbuka. Kemerdekaan belajar yang adil bagi seluruh rakyat Indonesia dapat tercapai tujuannya.

Kedua. Mengembalikan peran orangtua sebagai pembimbing pendidikan anak

Melalui pengalaman beberapa bulan belakangan ini secara langsung membuat kita dapat memahami bahwa melalui proses belajar-mengajar di rumah dapat membuka mata kita bahwa teknologi, melalui digital, membuat akses untuk belajar apapun yang kita mau jadi tidak terbatas. Home base learning atau bersekolah dirumah mengajarkan 2 hal.

Pertama, bahwa metode belajar mengajar dan berinteraksi melalui bantuan medium alat digitalisasi.

dan kedua, mengembalikan peran orangtua dalam proses belajar anak dan pendidikan. Tanggung jawab atas pendidikan anak harus dikembalikan kepada orangtua dan bukan guru atau sekolah. Itu karenanya saya rasa perlunya untuk berbagi pendapat saya sebelumnya atas masa anak belajar berbanding terbalik dengan besaran keterlibatan orangtuanya. Silahkan dibaca disini.

Ketiga. Proses belajar mengajar yang baru.

Akibat pandemi ini, demi kebaikan kita semua, kita perlu untuk melakukan physical distancing dengan stay-at-home, menjalankan kehidupan normal di rumah saja. Semua proses kehidupan termasuk bersekolah diharuskan untuk dilakukan di rumah. Semua proses belajar mengajar termasuk kegiatan bersekolah kini dilakukan melalui platform digital.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka baik guru dengan sekolah, murid juga orangtua harus belajar dan mulai terbiasa untuk menggunakan perangkat digital dalam kesehariannya untuk bersekolah.

Kondisi pandemi ini memaksakan orangtua untuk ikut mengerti dan juga belajar proses belajar-mengajar yang baru. Keharusan kita semua untuk tetap #dirumahaja mengajarkan kepada kita, untuk dapat mengevaluasi ulang sebuah nilai, kepentingan dari sebuah nilai dan bentuk sebuah nilai. Termasuk bersekolah.

Beberapa istilah belajar mengajar yang mungkin jadi terangkat akibat dari perubahan atau inisiatif Kementerian Pendidikan dan kebudayaan maupun aktifitas belajar dirumah antara lain seperti MOOC (massive open online courses), Home Based Learning (HBL) , Blended learning  bersama project based learning. 

Dalam setiap link diatas dapat disimak definisi dan konsep dari masing-masing cara belajar mengajar tersebut.

Proses belajar yang baru memberikan keterbukaan langkah demi langkah dalam memahami jalur dan ilmu pendidikan anak sesuai dengan pilihannya. papun pilihannya, ilmu akademika, ilmu praktek dan ilmu ketrampilan dapat terintegrasi dan diakses secara langsung, tidak terbatas. Kita dapat melihat dari pengalaman sendiri atau bagaimana anak kita berinteraksi dengan teknologi. 

Anak lebih siap untuk berkarya. Dan karya secara langsung dapat dihargai. Proses pembelajaran terjadi secara langsung. Semua mendapatkan kesempatan untuk saling kenal di manapun kita berada, juga dapat saling mendukung, serta mendapatkan kesempatan penuh dalam berjejaring dan berkolaborasi. Melibatkan proses pembelajaran dalam suatu aktifitas bersama, secara terstruktur, bertingkat dan terbuka bagi siapa saja yang mau ikut serta didalamnya. Kesempatan membangun portfolionya dari awal, dan belajar untuk mengerti bagaimana mengarahkan sebuah minat, menjadikan buah karya, bagaimana mengusahakan agar karya dapat dihargai oleh orang lain dan membangun karya menjadi sebuah pekerjaan atau bisnis. (sebagai contoh, baca harga sebuah karya disini)

Ada beberapa tantangan dalam proses menghasilkan education outcome yang baik. Yang pertama menurut pendapat saya adalah menjaga agar proses pendidikan jadi lebih realistis. Itu yang pertama. Tidak hanya realistis terhadap apa yang dibutuhkan di masa depan (dalam hal ini maksudnya adalah relevansi skill dan kompetensi) tapi lebih penting dalam proses belajar anak agar realistis dengan kehidupan, seperti realistis terhadap kondisi, situasi, dikala sedang belajar atau untuk dapat mempertimbangkan perubahan yang dapat terjadi sewaktu-waktu di masa depan. Belajar untuk mencari jalan keluar atau bagaimana bernavigasi bilamana dalam keadaan tidak berhasil. Belajar dengan melihat fleksibilitas sebagai salah satu cara bukan sekedar jalan keluar.

Kedua. Melalui perubahan dan ketersediaan teknologi baru atau cara baru, dapat mendorong orangtua untuk dapat siap dalam mendukung minat dan bakat anak. Kesiapan memahami bagaimana cara untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Agar dapat membantu membentuk karya menjadi suatu solusi atau perbaikan kehidupan banyak orang di masa depan. Realistis dan nyata. Bilamana orang tua selalu mau ikutserta langkah demi langkah. Agar apapun kondisinya, anak mendapat cukup dukungan, mendapat semangat yang dibutuhkan juga dalam mencari jalan keluar.

Dalam setiap langkah dan proses yang berjalan, orangtua dapat mendampingi anak terutama saat menemukan suatu medium berbasis komunitas yang saling mendukung. Tidak bisa dilepas begitu saja dalam pergaulan dan belajar.

Ini tentunya membuat anak dan orangtua merasa aman dan nyaman dalam menjalani proses dalam menghasilkan education outcome yang baik.

Betul. Dibutuhkan keseimbangan antara aspirasi dan dunia nyata. Agar anak kita dapat membayangkan masa depannya dan juga memiliki ketangguhan dalam usaha untuk mencapainya. Kini melalui kegiatan seperti kelompok belajar bersama di online dapat memberikan akses serta kemudahan bagi anak dalam mempertimbangkannya.

Sehingga cita-cita seorang anak tidak lagi hanya satu, tapi bisa beberapa. Biarkan anak bereksplorasi tanpa batas, biarkan anak mencoba untuk berubah dan menyesuaikan diri dan mencoba banyak hal sesuai dengan keinginannya, bukan kemampuannya.

Mari temani anak belajar, menjadi teman anak dalam belajar. Bersama-sama.

Terima kasih atas waktunya teman-teman. Ditunggu input dan masukannya di kolom komentar dibawah ini ya.

Berikutnya, lanjutkan baca teman belajar bersama dengan topik harga sebuah karya.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Here’s a point of view on education. What do you think ?

Masa belajar anak

Ini adalah sebuah pemahaman.

Pemahaman yang saya dapatkan seiring dengan pengalaman saya di dunia sosial dan pendidikan. Sebuah pemahaman yang akhirnya saya pegang dan saya coba dalam masa belajar anak dan keterlibatan saya sebagai orang tua.

Saya akan mencoba memberikan gambaran ilustrasi dengan harapan memudahkan bagi teman belajar bersama untuk dimengerti.

Berikut gambarannya.

Pertama.

Masa anak belajar berbanding terbalik dengan besaran keterlibatan orangtua.

Kedua.

Contoh anak berumur 5 tahun dan keterlibatan orangtuanya.

Ketiga.

Contoh anak berumur 12 tahun dan keterlibatan orangtuanya.

Keempat.

Contoh anak berumur 19 tahun dan keterlibatan orang tua dimasanya.

Kelima.

Contoh anak berumur 28 tahun dan keterlibatan orangtua dimasanya.

Disaat itulah kita sebagai orangtua bertanya pada diri kita sendiri.

Apakah bekal yang telah saya berikan selama ini cukup ?

Apakah tidak perlu bantuan saya sama sekali ?

Tentunya semakin utuh seseorang semakin besar ilmu dan tabungan pengalamannya.

Sebaliknya, semakin besar umur anak, semakin siap dan cukup pembekalan ilmu, pengalaman, kematangan dewasanya, keutuhan kepercayaan dirinya terhadap cita-cita dan yang membuat dia bahagia dalam berkarya artinya semakin mandiri dia semakin kecil keterlibatan orang tua.

Keenam. Sebuah kesimpulan.

Kesimpulannya adalah, bahwa dalam gambaran ilustrasi diatas dapat dipahami bahwa semakin kecil umur anak, semakin besar diperlukan peran orangtua dalam mendidiknya. Semakin besar anak, semakin kecil peran orang dalam proses pendidikannya.

Artinya, semakin muda anak kejelasan, struktur, dibutuhkan anak. Untuk menjadi terbiasa tentunya ada kebiasaaan. Dari kebiasaan menghasilkan disiplin. Anak membutuhkan orang yang dituakan. Bukan teman. Tapi seorang yang dapat memimpin ke jalur yang baik sesuai dengan kebutuhan anak.

Lalu kapan anak butuh orangtua menjadi teman mereka ? Menurut saya, adalah pada saat anak mulai mengerti tanggung jawab mereka secara dewasa muda. Setengah jalan. Kedewasaan dan kesiapan anak tentunya berbeda satu dengan yang lainnya.

Pengertiannya seperti ini. Manusia terlahir kosong. Dari Nol. Anak tentunya akan bertindak belajar dari dari penglihatan, pengamatan, disekitarnya sehingga secara tidak sadar melakukan hal-hal yang sama dengan lingkungan sekitar.

Semakin kecil umur anak semakin banyak bantuan diperlukan dari orangtua. Semakin besar peran orangtua untuk dapat mengarahkan, memberi pola, pengertian baik dan tidak, peran orangtua untuk memimpin anak belajar dari titik nol. Akibatnya, pola berpikir, besaran ilmu, karakter akan terbentuk dari mulai dia terlahir akibat dari siapa yang memimpinnya.

Semakin besar umur anak semakin dia menjadi siap dan mandirinya pemikiran mereka dan semakin dia membentuk dirinya sendiri. Semakin dia tahu apa yang dia mau, memiliki gambaran mengenai siapa dirinya. Pada saat itulah orangtua beralih peran menjadi teman baik dan sahabat mereka.

Dalam tujuan education outcome. Mirip seperti pemahaman seorang pemimpin yang baik. Anak memerlukan seseorang yang dapat memimpinnya yang mau ikut serta sepanjang perjalanan untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Karena saat dia percaya pada dirinya sendiri, peran orang tua berganti menjadi teman belajar bersama. Menjadi supporter kuat. Pendukung anak. Saya pun disarankan bahwa  jangan jadi teman saat diumur anak lagi butuh pengarahan. Anak butuh orang yang dituakan untuk mengarahkan jalan.

Melalui pemahaman ini saya disadarkan atas konsep homeschooling. Dimana semua yang ada dirumah ikut berperan dalam mendidik anak. Peran seorang guru bukan hanya disekolah. Artinya kita tidak boleh melepaskan tanggung jawab kita hanya kepada sekolah dan guru dalam proses pendidikan anak. Tapi bahwa orangtua merupakan guru utama bagi anak yang mana dibantu oleh guru dan sekolah. Bukan sebaliknya.

Lalu, bagaimana apabila orangtuanya hanya salah satu yang dapat hadir.

Saya pernah ditanya oleh seorang teman dimana suaminya beberapa tahun bekerja di luar kota, sehingga interaksi anak sangat terbatas waktunya. Pertanyaan teman saya adalah, apakah cukup ?

Berikut jawaban saya, berdasarkan pandangan saya. Menurut saya, si ayah harus berusaha menambal kekurangan waktu atau hutang waktu yang dibutuhkan anak. Karena kebutuhan tersebut tidak akan hilang. Seberapa waktu yang dapat mengisi kualitas yang dibutuhkan anak.

Karena itu saya sangat menghormati single parents yang memiliki challenge yang lebih besar, yaitu menjadi ibu sekaligus ayah bagi kebutuhan anak. Atau sebaliknya. Memberikan pendidikan, pengajaran dan pengalaman yang berbeda dari sisi ayah juga sisi ibu. Karena memang, ibu dan ayah memiliki kekuatan yang berbeda. Luar biasa sama besar dan sama pentingnya. Kreatifitas sangat dibutuhkan dalam masa dan kondisi seperti ini. Saya pribadipun dibesarkan dalam keadaan orangtua berpisah. Sehingga pengalaman ini cukup dekat dengan saya.

Jadi untuk menjawab kapan orangtua dapat beralih peran dan menjadi teman pendidikan anak? Menurut pendapat saya adalah saat seorang anak cukup bekal pengalaman, pembekalan ilmu, kedewasaan dan kepercayaan dirinya cukup untuk masuk dapat berdiri sendiri atas kehidupannya sendiri. Tentunya merupakan sebuah kesepakatan antara anak dan orangtuanya dalam hal ini. Tidak berdiri sendiri ataupun berat sebelah.

Pertanyaan lanjutan adalah, apa sebenarnya fungsi sekolah ?

Jawaban itu adakan berhubungan erat dengan pilihan sekolah yang cocok dengan kebutuhan anak dan jalan hidup anak yang anak pilih. Tapi dalam keadaan pandemic corona dimana kita di tempatkan untuk melakukan Home Base Learning, sadari atau tidak, next step atau level up akibat dari pengalaman ini adalah kesadaran bahwa kita bisa belajar apapun dari rumah selama resourcesnya ada di dunia maya. Mau tidak mau bentuk dari sekolah pun akan mulai berubah.

Apalagi seringkali kita dibukakan pandangannya atas keberhasilan banyak pemimpin dunia, yang tidak lulus atau selesai sekolah tinggi.

Bagaimana education outcome yang diharapkan oleh kedua pihak anak dan orangtua dapat tercapai ? Bagaimana kita dapat membantu anak menemukan atau menggapai cita-citanya ?

Dan pembahasan itu melanjutkan saya untuk membahas aspek penting dalam proses belajar anak. The Education Outcome.

Terima kasih atas waktunya teman-teman. Bagi yang ingin membahas lebih lanjut, mari bahas di kolom komentar dibawah ini. Ditunggu !

Next, pengertian education outcome.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Teman Belajar Bersama

Belum lama ini, sebelum masuk masa pandemi, saya mendapatkan kesempatan untuk mempelajari Education Outcome lebih dalam kaitannya pada dunia sosial. Kesempatan tersebut membangkitkan kembali semangat saya, menyegarkan kembali passion saya di dunia sosial dan pendidikan.

Dalam perjalanan saya untuk belajar lebih dalam saya mulai dengan bertemu dengan teman-teman lama yang memiliki pengalaman di dunia pendidikan. Sayapun mulai berkenalan dan juga bertemu kembali dengan teman-teman yang memiliki passion di dunia sosial dan pendidikan.

Melalui perjalanan yang saya lalui, saya menerima banyak pendapat dan masukan baik dari proses maupun hasil akhir education outcome yang kemudian membuka lebih lebar sudut pandang saya. Seperti disiram air segar saya terdorong untuk merangkum sebuah kesimpulan, tentunya dari sudut pandang saya.

Biasanya, education outcome dirasakan penting bagi kita dalam tujuannya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak atau seringkali kita dengar agar nantinya pemimpin masa depan Indonesia dapat memenuhi kapasitas yang diperlukan dalam tantangan global.

Tapi melalui pertemuan saya dengan teman-teman di dunia pendidikan membuat saya kembali merefleksikan apa yang penting dan apa yang realistis dalam kehidupan nyata.

Saya membagi tulisan ini menjadi beberapa bagian pembahasan.

  1. Masa belajar anak
  2. Pengertian education outcome.
  3. Harga sebuah karya.
  4. Bersekolah.

Topik-topik diatas dimaksudkan untuk menjelaskan pemahaman, keresahan juga mencoba untuk menawarkan buah pemikiran saya bagi teman pembaca dalam bidang pendidikan.

Saat ini masih terdiri atas 3 topik pembahasan yang siap untuk disimak. Tapi sejalan dengan perkembangan, sewaktu-waktu saya akan tambahkan lagi topik-topik atau pembahasan demi pembahasan yang menurut saya penting untuk dimengerti dan akan saya kumpulkan disini.

Saya mencoba menawarkan inisiatif yang saya namakan Teman Belajar Bersama. Suatu aktifitas yang ingin saya jajaki untuk belajar dan mengajak belajar pendidikan bersama.

#TemanBelajarBersama adalah suatu esensi yang ditangkap oleh Bung Simon dari Sinambung Indonesia yang berawal dari sebuah semangat. Sebuah semangat dari saya, Tyas Handayani, yang memberi daya dari dalam hati.

Semoga berkenan.

Salam pendidikan.

Silahkan lanjut bacaan disini.

Terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan, dukungan dan bimbingan dari teman-teman:

  • Mba Hety dan Bapak Hamid Abidin dari Filantropi Indonesia
  • Mas Adit dan Bung Simon  dari Sinambung Indonesia
  • Mba Stien dari Pusat Studi Pelatihan dan Kebijakan Pendidikan Indonesia
  • Mas Bukik dari Kampus Guru Cikal
  • Bapak Tatang Suratno dari Universitas Pendidikan Indonesia
  • Bapak Ben Suadi, Founder The Transformation Institute, Former Director PSF-School Development Outreach
  • Bapak Bambang Irianto F, Pakar dan Konsultan pendidikan Indonesia, Former Advisory Putera Sampoerna Foundation untuk Sampoerna Academy dan PSF-SDO.
  • Mas Yosea Kurnianto, Deputy Director SDG Academy Indonesia (an Initiative of Tanoto Foundation, UNDP & Bappenas)
  • Mas Timmy Widjaja, Sampoerna Academy Graduates, batch USA.
  • DR Sendy Widjaja, Founder Indo Advance, Former Head of Cultural PSF
  • Mas Ramya Prajna, coFounder&CEO ThinkWeb & coFounder Semua Murid Semua Guru

Izinkan saya terus menjadi teman belajar bersama kalian.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Think in structure

To put into context on the above quote from Henry Ford, to me, the step of getting from vision into executions will of course need process.

And when it is a process we will need to organise how we think, systematically in structure.

Those who do not agree with me might possibly do not agree how important to think in structure.

That is the technique.

I believe, structure thinking is by far the most important skill on any occasion weather the objective is to execute a business idea or startup or to begin an activity.

Especially nowadays when everything business disruptive caused by digitalisation.

It makes us able to request a buy from point A to point Z.

However point A is in a city in Kalimantan dan point Z is in Jakarta.

To get it done, as part of the execution, we will need to identify the journey systematically. Otherwise structured our thinking.

It’s crazy to not want to understand any planning with structure as guidance. Results and progress are based on those structures.

Am I crazy or I am just hallucinating ?

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

things to feel good for the future

Hello 2020.

I would like to open this year by sharing some happenings in 2019 that can make us hopeful and feel positive for the future.

Please have a look, and share your own take on these matter. You could also share your own version of things to be hopeful.

This is my findings.

  1. Control on social media

I think you would agree with me that some things happening on social media are getting out of hands. How we communicate on social media and also the impact of some actions communication on social media.

What I notice, sometimes, the impact becomes so negative. We cannot control the perception and how people would feel. How it drives their judgement. Their understanding. And therefore their decision making.

We can understand that people use social media for different needs or have different agenda. Some might be good. But some might not. Some are mature and can protect themselves. Some need protection.

That is why I feel it is important to highlight the positive and responsible action done by some biggest platform. Making quite the example, Twitter and Instagram.

Twitter bans political ad. Because influence is ‘earned, not bought’.

From the article Big Think,“We’ve made the decision to stop all political advertising on Twitter globally. We believe political message reach should be earned, not bought,” Twitter CEO Jack Dorsey tweeted.

“A political message earns reach when people decide to follow an account or retweet. Paying for reach removes that decision, forcing highly optimized and targeted political messages on people. We believe this decision should not be compromised by money.”

I just love this. I think it’s about time those who has the power, take responsibility in controlling what is good and right. As the owner of the platform it is necessary to do what is right and show leadership. Really push quality content and positive conversation. You gotta start from somewhere. Right ?

Instagram announces global expansion of hidden like counts test. 

Instagram chief Adam Mosseri has repeatedly noted that the test is designed to reduce the pressure on Instagram creators, and that the true measure of its success will relate to how it impacts people emotionally. Taken from article Social Media Today.

This way, content becomes the best value that we can qualified based on who you are today, tomorrow, yesterday, every day. In world full of judgment, I think we’re setting it straight through these examples. My point of view.

  1. Improvement on education system

I totally agree when reading this statement. “Learning is not a competition,” by Ong Ye Kung, Singapore’s Education Minister. The Ministry of Education (MOE) is planning a series of changes aimed at discouraging comparisons between student performance and encourage individuals to concentrate on their own learning development.

I remember a quote from Mark Twain. Don’t let schooling interfere with your education. Nowadays, so many education institutions are racing towards the best. Being the best. Well now, Singapore has made quite the change.

Children in Singapore will no longer be ranked by exam results. 

According to weforum article, shifting the focus away from exam perfection towards creating more rounded individuals represents a serious change of direction for Singapore. Alongside academic performance the new policies aim to foster social development among pupils to raise self-awareness and build decision-making skills.

The skills we need to perform at work are changing – and quickly.

The World Economic Forum’s Future of Jobs Report 2018 suggests that employees will see an average shift of 42% in workplace skills between now and 2022.

Indonesia is also progressing some changes as the new education and cultural minister, Nadiem Makarim has launch 4 program education policy, one of them to remove National Exam starting by 2021.

  1. Action on climate change

Most grateful to see actions being taken in protecting mother earth for the betterment of the future. And we have Greta Thunberg to be thankful for.

“I want you to panic. I want you to feel the fear I feel every day. And then I want you to act.” Greta Thunberg told the annual convention of CEOs and world leaders at the World Economic Forum in Davos, Switzerland, in January 2019.

According to Time Person of the Year article, Greta began a global movement by skipping school: starting in August 2018, she spent her days camped out in front of the Swedish Parliament, holding a sign painted in black letters on a white background that read Skolstrejk för klimatet: “School Strike for Climate.” In the 16 months since, she has addressed heads of state at the U.N., met with the Pope, sparred with the President of the United States and inspired 4 million people to join the global climate strike on September 20, 2019, in what was the largest climate demonstration in human history.

Since then, real changes have been made. From the article, among the actions there are,

  • Fortune500 companies, facing major pressure to reduce their emissions, are realizing that sustainability makes for good PR.
  • In June, the airline KLM launched a “Fly Responsibly” campaign, which encouraged customers to consider abstaining from non-essential air travel.
  • In July, the head of OPEC, the cartel that controls much of the world’s oil production, called climate strikers the “greatest threat” to his industry, according to the AFP.
  • In September, workers at Amazon, Facebook and other major companies walked out during the climate strikes.
  • And in November, the president of Emirates airline told the BBC that the climate strikers helped him realize “we are not doing enough.”
  • In December, Klaus Schwab, the founder and CEO of the World Economic Forum, published a manifesto calling on global business leaders to embrace a more responsible form of capitalism that, among other things, forces companies to act “as a steward of the environmental and material universe for future generations.”
  • In the past year, more than 60 countries said they would eliminate their carbon footprints by 2050.
  • Voters in Germany, Denmark, the Netherlands, Austria and Sweden—especially young people—now list climate change as their top priority.
  • In May, green parties gained seats in the European Parliament from Germany, Austria, the Netherlands and more.
  • There was an 8% drop in domestic flights between January and April according to Swedavia, which runs the nation’s airports, and Interrail ticket sales have tripled over the past two years.
  • More than 19,000 people have signed a pledge swearing off air travel in 2020, and the German railway operator Deutsche Bahn reported a record number of passengers using its long-distance rail in the first six months of 2019.
  • Swiss and Austrian railway operators also saw upticks on their night train services this year.

In short, I think the things happening today will take matter for the future and in becoming a much kinder world. A safer world.

Just what the world needs right now. To be kind. To make the world a peaceful place to live in.

Other things that has got my attention is the rise awareness of self-care. And how people in their own way are educating how to care about yourself, how to be kind to yourself as well to others.

The next question,  if things are changing, and people has come to be aware, how to protect it ? How to keep making things good ?

I feel somehow the technology of blockchain is still the most technology that has the biggest impact for the decades to come (Read Blockchain revolution by Don Tapscott or his TedTalk. ). Might be, currently, some people out there are developing block chain based applications and making better new businesses hence ensuring a better world.

Because of the system that is based on integrity of network, control on distribution of power, secured identity, privacy, rights preserved and inclusivity. All those aspect are not optional. It is all or nothing at all.

Imagine how it could end feudalism.

I’d like that. Don’t you ?

Happy new year everyone.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

Bagaimana Personal Branding membantu arahkan karirmu

 

click to listen

Mindshift Podcast Episode 13

Your name is your brand.

Kalimat tersebut diatas sering orang lupa. Bahwa nama diri kita sendiri merupakan nama yang selalu harus kita jaga dengan baik dengan penuh tanggung jawab. Karena sebelum nama-nama  yang kita bangun secara professional, baik berhubungan secara langsung atau tidak dengan karya kita, jangan lupa, nama kita tidak kalah penting.

Andira Pramanta adalah seorang content creator yang berhasil membangun personal branding hingga menjadi Influencer yang cukup dikenal di dunia maya. Juga diantara brand-brand terkemuka seperti Samsung, Telkomsel, Go-Jek, Grab, DBS Bank, Motorola dan masih banyak lagi. Cukup dikenal disini maksudnya adalah, bahwa cukup memberi pengaruh pada karir Andira sebagai seorang professional.

Akibatnya, Andira seringkali diajak ke luar negri untuk meliput dan berkreasi bentuk-bentuk konten menarik bagi brand-brand tersebut.

Passion dalam berkreasi mendorong dirinya untuk terus melahirkan berbagai bentuk karya secara konsisten dan mendalam. The jack of creative trades that is his position atau dalam bahasa yang lebih teknis, his value proposition.

Siapakah Andira Pramanta ?

Bagi anak Jakarta yang suka dengerin radio mungkin kenal suara khas renyah AndirDor di U-FM dan juga Hardrock FM yang pernah menjadi host broadcaster Prime Time, Drive n Jive juga Good Morning Hardrockers.

Andira yang mengawali karirnya di bidang creative, designing cover majalah untuk MTV Trax Magazine karena memiliki latar pendidikan di visual communication.

Tapi karena terdorong oleh passion, Andira tidak pernah menutup peluang. Termasuk kesempatan yang berawal dari membantu teman hingga kesempatan yang pada akhirnya menjadi suatu lahan bisnis sendiri. Beberapa jenis usaha yang dia coba bangun dan masih berdiri hingga sekarang antara lain adalah,

  • Digital Print Shop yang dinamakan Hi Res Digital.
  • PIAS Cycles suatu usaha design bicycle frames juga nurturing cycling communities berhasil mendapatkan kolaborasi dengan South Korean lifestyle brands meluncurkan suatu paket spesial bundled edition. Selain itu juga sempat sponsor competitive cyclists in global events, juga memenangkan juara pertama pada akhirnya.
  • Save As Production suatu usaha design buku seperti Rene Suhardono, Ligwina Hananto, Yoris Sebastian, Najwa Shihab, juga Pandji Pragiwaksono untuk salah satu buku juga Album Rapnya.
  • Tigalimamili / studio.mamut disini Andira berkarya sebagai video director.

Passion beats everything else. Berjalan dengan waktu Andira masih tetap mengajar di 1st media design school. Pernah bantu socmed nya penyanyi terkenal Andien Aisyah pula.

Sebagai seorang content creator yang dikenal creative beberapa keberhasilannya antara lain adalah:

  • Produced video content for brands like Samsung, Telkomsel, Go-Jek, Grab, DBS Bank, Motorola, Pondok Indah Mall, etc.
  • Sponsored by Samsung in 2014 to attend IFA in Berlin, Germany, and wrote articles for Kompas Klass.
  • Sponsored by Singapore Tourism Board in 2014 to make an experience video about Singapore.
  • Sponsored by Vivo in 2015 to make video about their campaign to visit Astronaut Training Experience in Florida, USA.
  • Sponsored by Lenovo in 2016 to attend and make video of Consumer Electronic Show 2016 in Las Vegas, USA.
  • Sponsored by Alibaba in 2017 to attend 11.11 Global Shopping Event

Saya jadi ingat, saya pernah ditanya oleh seorang teman yang juga kenal Andira. “Emang kerjaan kayak youtube-youtube-an atau nge blog ada duitnya ya Yas ?” Terus terang menjadi salah satu alasan yang mendorong saya membuat konten edukasi tentang personal branding ini.

Saat ini keberhasilan yang terakhir adalah saat mendapatkan tantangan baru sekaligus kesempatan untuk bekerja disebuah korporasi. Kini Andira menjabat sebagai Country Head Brand Marketing untuk CGV Indonesia.

Bagaimana personal branding Andira dapat membantu karirnya, ada beberapa hal yang dia lakukan saya coba simpulkan disini.

  1. Mulai dari diri sendiri.

Membangun personal branding dimulai dari mengenali diri sendiri dengan baik. Nah, bagaimana kita menemukan cara untuk memahami diri kita sendiri ? Kita dapat mulai dengan mempraktekkan hal hal yang kita suka, belajar mengerti diri dan memahami diri sendiri. Pada akhirnya, hal-hal yang kita tidak suka melakukannya atau menjadikannya, dimana sebelumnya kita pikir kita suka, akan ter-eliminasi dengan sendirinya. Sedangkan hal-hal yang kita suka untuk melakukannya dan terdorong untuk terus melakukannya akan menemukan caranya sendiri untuk mengasah diri kita dan menjadi lebih baik lagi. You will get a sense of “kepengen terus melakukannya”. That’s when you know it becomes your passion. It starts however, from a little bit of interest. That interest will then grew on you. Bigger and better.

  1. Berani mengambil kesempatan.

Peluang terkadang jelas didepan mata tapi kadang kita takut dan tidak percaya diri untuk mengambil atau mulai. Atau, ada kalanya kita tidak cukup rajin atau konsisten untuk terus melahirkan karya. Mulai beranikan diri one step at a time. Jangan kecilkan kesempatan atau pengalaman. Pada akhirnya, semua hasil karya menjadi pilihan untuk berkarya. Banyak pilihan menjadi lahan untuk kesempatan untuk tumbuh. Diri kita sebagai brand, sebagai nama kita sendiri. As I always say, you gotta start from somewhere. So start.

  1. Content, Contextual, Consistency.

The 3 Cs investments that will lead to your personal branding or any type of branding purpose from nothing to something. It is a strategy that we common use when building a brand. Tidak ada sesuatu yang langsung jadi begitu saja. Digital adalah salah satu medium yang lebih mudah, gratis dan cukup accessible bagi siapa saja yang mau menggunakannya sebagai platform membangun personal branding. Mulai dari social media yang jelas banyak bola mata tapi juga bola mata itu memiliki arti saat berlanjut menjadi bahan pembicaraan dan terus meningkat saat pembicaraan tersebut ditangkap oleh beragam komunitas yang sudah terbentuk. Tinggal kita gunakan for our own preference. Semua harus dibangun dengan fondasi yang jelas sehingga menjadi foot prints suatu brand yang kuat secara ingatan. Semua dibangun dengan waktu dan usaha. Rumusannya, content yang berkualitas, dapat berbicara sesuai context atau narasi yang ingn dibangun juga bisa diartikan agar dapat selalu relatable dengan kondisi yang ada. Dan yang terakhir, terus menerus dilakukan secara consistent.

  1. Be genuine.

By being yourself you will find who you truly are. Menjadikan jati ciri, signature atau pembeda menumbuhkan your own tribe. Sometimes your uniqueness or your chosen liking of something will be so different it becomes niche. But by being focus , you open to new “others” and that is where lies the opportunity. A niche market.

  1. Nourish your network.

Having the network does not mean anything if you do not do the right thing. Start invest time, space, building friendships not just acquaintance. So then, to let your network serve your purpose. Andira pernah mendapatkan nasihat dari Rene Suhardono, mengambil quote dari Susan RoAne, “Its not about who you know but who knows you” Artinya, if they really know you, they will talk about you, they will become your network of buzzer. Really start to invest in relationships, karena Andira menambahkan, lebih baik dikenal daripada menjadi terkenal. Karena menjadi orang yang terkenal belum tentu dikenal siapa kita sebenarnya.

Personal branding pada akhirnya harus kembali kepada diri kita sendiri tentunya.

Bagi Andira, hasil atau output pertama dari personal branding yang ia bangun adalah adalah kebahagian diri sendiri. Namun yang dia akhirnya rasakan adalah dampak atau impact yang dirasakan yang memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Pada akhirnya Andira menemukan kepuasan dalam cultivating happiness to others. Secara keseluruhan, kepuasan tersebut dia sadari sebagai life purpose.

Hope you enjoy the podcast !

Pilihan untuk mendengarkan Mindshift Podcast antara lain :

Untuk lebih mudahnya cari dengan keyword  Mindshift with Tyas.

A special thanks to Andira yang telah berbagi ilmu dan pengalaman bersama Mindshift Podcast. Merasa kenal Andira dari kecil hingga sekarang, saya bisa katakan dengan lantang, I am so proud of you. Keep up building what makes you happy. We are happy for you. We are happy with you. Success !

Bagi yang mau lebih dekat kenal Andira, silahkan melalui

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com