Interview with Angga Permana. Pengalaman seorang milenial menjadi expat di luar negri.
Cerita kali ini adalah sebuah interview pengalaman Angga menjadi expat di Kuala Lumpur, Malaysia. Sharing kali ini mungkin akan memberi manfaat bagi yang banyak. Bagi teman-teman yang ingin memiliki kesempatan bekerja diluar negri, teman millennial yang ingin compete globally, juga bagi teman HR akan membuka sudut pandang yang menarik dari cerita ini.

Saya mengenal Angga sejak masuk dalam team digital dan social media di Putera Sampoerna Foundation. Dari intern hingga menjadi karyawan tetap dengan posisi Social Media Specialist. Sebuah peran yang tanggung jawab dalam 2 hal yang besar, yaitu content dan pengelolaan channel social media.
Angga pernah aktif di Couchsurfing Writers Club, Rotary in Action (Rotaract) club of Semanggi, komunitas Gerakan Indonesia Berkibar. Sejak lebih dari 2 tahun yang lalu, Angga telah bekerja pada sebuah situs eCommerce bernama iPrice yang bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kali ini dalam kesempatan yang sangat mendadak, saya diajak makan siang bersama. Kebetulan Angga ditengah cuti kembali ke Indonesia mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman bekerja di Luar Negri sebagai Expat bersama Rotaract Semanggi, komunitas kepemudaan dibawah asuhan Rotary chapter Jakarta yang memiliki fokus pada youth empowerment and education.
Karena ada waktu cukup luang antara makan siang dan acara bersama Rotaract saya langsung mencoba kesediannya untuk berbagi dalam wawancara. Saya tertarik untuk wawancara Angga dalam 2 cerita. Pertama, berbagi pengalaman dan tips menjadi Expat dan yang kedua, berbagi pengalaman dalam perannya sebagai Content Lead pada sebuah situs eCommerce, iPrice. Kebetulan saya sedang menulis sebuah pembelajaran yang akan rangkai dalam serial #TyasEcommerceProject. Stay tune for this ya. So, let’s get to it, shall we.
Tyas :
Lets start with why ? Kenapa nih Angga tiba-tiba pengen bekerja diluar negri? Kenapa di KL, dan apa yang membuat Angga memutuskan dan berani untuk bekerja di luar negri.
Angga :
Sebenarnya ada 2 hal yang mendorong saya untuk mencoba kesempatan ini.
Pertama dalam pencarian pengalaman baru yang bener-bener baru, out of the ordinary, out of comfort zone saya, bahkan kalo bisa sangat berbeda salah satunya yang memiliki culture differences. Makanya saya mencoba-coba mencari pekerjaan di luar negri dalam harapan mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda dengan yang saya dapatkan sebelumnya.
Kedua, saya ingin explorasi ilmu yang saya miliki sekarang dengan ilmu baru. Karena sebenarnya role yang pertama saya apply bukan role yang pada akhirnya saya dapatkan. Karena saat saya di hubungi ternyata pekerjaan yang saya apply sudah terisi namun mereka tertarik karena terlihat dari pengalaman saya dalam CV, untuk memberikan kesempatan di posisi content. Editorial, content copywriter.
Tyas :
Ok, Angga punya banyak alasan yang mendorong untuk mencoba bekerja di luar negri. Mandiri, pengalaman baru, kesempatan baru. Tapi apa sih yang membuat Angga yakin, okay sepertinya I am positive and sure to move to KL with iPrice. What makes you certain? Apa pertimbangan utama ?
Angga :
Mungkin pertama tidak bisa saya pungkiri, perbedaan gaji yang sangat beda dengan yang didapatkan di Jakarta. Mungkin karena pengalaman saya menunjukkan juga saya dapat meyakinkan bahwa ilmu sayang saya miliki sangat bermanfaat bagi perusahaan bisa menjadi nilai plus.
Dan saat saya negosiasi. Keberhasilan saya bernegosiasi atas nilai dan value saya. Percuma apabila pengalaman banyak dimana-mana tapi negosiasi tidak berhasil convinced pihak pewawancara maka tidak akan naik kelas atau dibayar 2 kali lipat saja “fine”. Padahal dengan negosiasi kita bisa mendapatkan kesempatan untuk 3 kali bahkan 4 kali lipat. Itu yang mungkin yang membuat saya bener-bener yakin saya pindah.
Tyas :
Kesempatan untuk bargain dan pada akhirnya mendapatkan hasil, a very good deal. Menurut aku, itu jarang sekali dapat kesempatan untuk berbagi.
Karena yang saya bayangkan adalah, kesempatan ini benar-benar purely new to each other. I don’t know you, you don’t know me. So anything is possible. Berapa kali tuh Angga interview, bisa ceritakan prosesnya ?
Angga : 2 kali . Pertama melalui skype dengan VP. Kedua dengan CEO langsung.
Tyas :
Cukup tinggi ya yang meng-interview ya. Baru abis itu dengan HRD. Angga boleh ceritakan apa saja sih yang ditanyakan dan menurut Angga, apa saja yang penting yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua ? Sangat penting untuk di dorong kedepan pengetahuannya.
Angga :
Pertama, saya ingin menjawab tentang apa saja yang paling penting saat diwawancara.
Research yang mendalam tentang pekerjaan itu sendiri. Kebetulan dalam pekerjaan saya, editorial content itu cukup luas dan terus terang belum memiliki pengalaman yang banyak sehingga saya perlu mempelajari lebih lanjut. Walaupun di pekerjaan sebelumnya memang sebagian dari pekerjaan saya banyak menulis tapi partly untuk artikel publish di website atau editorial social media.
Nah disini lebih complek karena bagaimana saya perlu tahu hubungannya dengan SEO, keywords, and bagaimana content dapat bersaing diantara puluhan ribu artikel yang tersebar di internet dalam tujuan dapat rangking top 10 di google, caranya bagaimana. Maka melalui research saya mencoba melihat beberapa kasus dan mecoba menanggulangi kasus tersebut.
Tyas : Did you learn by your own ? Making a case and solving it ?
Angga :
Yes. I learn from the internet. In the internet there are so many cases to learn, so I took the cases, and make it my learnings, how to overcome the problem and issues.
Tyas :
Ok, abis itu kamu badanin latihannya ya ? Latihan, coba make a case and share how to solve and defend that case ?
Angga :
Betul. Setelah kita riset, kemudian strategi. Kita perlu menawarkan strategi apa yang perusahaan itu belum terapkan. Dalam rangka apakah strategi itu dapat berhasil atau diterima bagi perusahaan tersebut.
Tyas : Jadi kayak, I’m going to be a solution for you.
Angga :
Yes. Bukan hanya menerima jobdes aja, tapi kita juga memberikan solusi for the company.
Nah, abis itu pastinya perusahaan akan memberikan challenge atas case yang sedang dibicarakan, nah sebeberapa besar kita dapat meyakinkan, misalnya apakah strategi tersebut penting bagi perusahaan tersebut untuk diterapkan saat itu. Apakah cocok dan sesuai dengan model business perusahaan tersebut. Nah itu yang saya maksudkan challenge dan strategi untuk dapat memberikan jawaban yang kreatif.
Tyas :
So you have to make a case, then you have to have a stand point, dan tahu bagaimana menjawabnya untuk menjadi sebuah solusi.
Angga :
Iya jadi saya mencoba mencari angle sebanyak mungkin pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan. Sebanyak mungkin saya coba untuk dapat siap dengan jawabannya. Jadi saya siapkan potential-potential question and answers yang dapat saya latih sebelum masuk interview.
Tyas :
So, part of your homework was not only doing the research, tapi mencoba semua study case dan mencoba menggodok ulang, membayangkan apa yang akan ditanyakan mereka dan mencoba menjawabnya kembali abis itu kamu coba latihkan kembali melalui membadani kembali. Keren banget !
Angga :
Setelah itu ada indepth interview. Prosesnya debate. Jadi saya harus bisa mempertahankan argument yang saya berikan. Has a firm stand point of my own opinion. Atas suatu fakta yang saya ambil. And then saya kembangkan kembali dengan contoh kasus lagi jadi lebih indepth dan saya kembangkan dan lebih dalam lagi. Nah itu yang sebenarnya mereka cari. Karena disesuaikan dengan market mereka, dan aktualisasi kerja di lapangan.
Tyas : Saya jadi penasaran apa saja yang ditanyakan oleh VP dan CEO nya saat itu ?
Angga :
Untuk VP, saat itu beliau yang menjadi manager saya langsung. Jadi ini interview langsung dengan user. Dan karena beliau memang the expert dalam bidangnya, beliau paham bagaimana membuat quality content. Jadi yang ditanyakan adalah strategi konten, khususnya how to craft ideas, in details mulai dari headlines, hingga jumlah kata, keywords, headlines yang cocok, ending closing dan lainnya. Dia pun memberi contoh untuk kita bicarakan bersama dan memberi argumen.
Tyas :
Jadi bener-bener executional ya ? Its not just about the strategi but also how you execute those strategy and how you defend that execution. Nah ditanyakan ga sih ke Angga apakah setelah melakukan strategi hasilnya apa, atau what was your achievement misalnya ?
Angga :
Betul. Dan achievement atau results dari past experience ditanyakan, tapi kebetulan yang ditawarkan berbeda dengan pekerjaan sebelumnya. Jadi saya sempat jelaskan juga bagaimana saya bekerja diperusahaan lama, culture-nya, tapi tidak mendalam, lebih indepth soal pekerjaan yang mau saya dapatkan.
Tyas : How long does it takes, the interview ?
Angga :
Dengan VP 1 jam, dengan CEO, cuman 5-10 menit krn by phone. Lebih ke pertanyaan apa motivasi, atau lebih pengen tau pribadi saya seperti apa.
Tyas :
Pastinya Angga juga banyak pertanyaan. Did they give you a chance to ask? And what was the questions ?
Angga :
The questions. Knowing it’s a tech start-up so anything can happen. Yang saya tanyakan lebih ke security. How secure is the company. How do they see the company in a few years.
Kedua, kualitas interview bagaimana. Apakah puas atau tidak, apakah saya qualified atau tidak ?
Ketiga, 1 semester pertama, apa yang akan dikerjakan, akan menjadi KPI. Task apa saja yang menjadi challenge.
Tyas :
So you want to show them, that you too want to prepare and want to know more what will be your task.
Angga :
Yes, saya ingin terlihat proactive. Nah setelah itu, saat wawancara VP dia memberikan test. Mulai dari test nulis dalam waktu 3 jam, produksi artikel dengan kualitas yang bagus, lengkap dengan kebutuhannya sesuai dengan actual pekerjaan nantinya. Misalnya research keywords, supaya bisa rangking top 5-10 google. Test reviewing article.
Setelah submit, after 1 mingguan, baru ada info lolos go into the next stage. And then ada clarification dokumen, admin dan lainnya. Lalu berikutnya baru negosiasi gaji, benefit dan lainnya dengan HRD.
Tyas :
Apa saja yang menurut Angga penting dalam hal negosiasi ? Yang sering dilupakan orang.
Angga :
Pertama, visa kerja. Bagaimana prosesnya, apa yang perlu disiapkan, dan lainnya.
Kedua, salary termasuk whole package. For example benefits, seperti insurance, bonus, dan mereka memberikan penjelasan secara details, flexiblitas kerja juga benefits. Annual leaves dan lainnya.
Secara terpisah saya menanyakan kembali perihal living cost dan tempat tinggal apakah diberikan tambahan atau tidak. Dalam pengertian bahwa Angga adalah single dan belum berkeluarga. Bagaimana perihal benefit tempat tinggal, biaya tempat tinggal atau cost living di tanggung iPrice. Apakah juga termasuk dalam package ?
Itu nggak ditanggung mbak, jadi memang kita bayar sendiri dari gaji kita. Tapi memang setiap bulan selalu dapet bonus bulanan. Nah bonus bulanannya itu cukup untuk cover biaya sewa apartment sama ongkos pulang pergi kantor, treatment-nya seperti allowance.
Kalau yang aku dapet itu bonus besarnya 20-25% dari jumlah yang kita dpt setiap bulan, nah bonus ini memang cukup banget untuk bayar tempat tinggal dan ongkos transport. Jadi dari gaji itu paling dipake buat makan, belanja sama nabung sih. Tapi memang biaya pengeluaran terbanyak memang di makan sih.
Karena penasaran saya jadi bertanya, apakah ini termasuk kebijakan yang disesuaikan dengan keuntungan / keadaan perusahaan atau tidak, jadi memang sudah part in benefit.
Betul ini bagian dari kebijakan perusahaan. Setiap department berbeda cara penilaiannya, ada yg memang berdasarkan performance ada juga yang memang udah ditulis di kontraknya.
Tyas : Bagaimana apabila dibandingkan dengan pengalaman Angga di Jakarta ?
Angga :
In general sama. Beda adalah, mereka berani bayar tinggi karena expektasi ilmu dan knowledge yang saya bawa ke perusahaan. Saya sempat ada beberapa penawaran di Jakarta yang akhirnya saya tinggalkan, karna batasan nilai yang ditawarkan kepada saya atas ilmu yang sama, karena mereka melihat level posisi tanpa melihat skill yang saya tawarkan.
Beda dengan yang sekarang, terlihat semakin skill yang saya tawarkan terlihat bagus dan bermanfaat, semakin flexible. Jadi tidak terpatok akan limit gaji atau posisi.
Tyas :
Kalau kita kacamatanya kita balik ya. Kalo kita lagi di Jakarta, orang dari diluar (maksud saya expat) yang ditawarkan pekerjaan, kan sama persis seperti Angga kan ya. Yang dicari adalah skill. Jadi seharusnya, pertanyaan seharusnya sama. Dan kalo diberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, mungkin ada orang Indonesia dengan skill tersebut. Cuman tidak ditanyakan atau tidak dipercaya, misalnya.
Angga : Betul.
Tyas :
Living abroad. Pastinya Angga punya adjustments. Bulan pertama atau tahun pertama. Boleh di ceritakan proses adjustments di bulan pertama, tahun pertama hingga sekarang. Sekarang Angga udah berapa lama ?
Angga :
Sekarang udah 2 tahun 3 bulan. Sebenarnya perubahan dimanapun selalu ada ya. Perubahan pertama adalah makanan. Beda banget di Indonesia, makanan yang tersedia hambar tidak sekuat rasa makanan yang ada di kita. Jadi saya sulit banget mencari makan diawal saya disana.
Kedua, culture. Indonesia kita mengenal orang Indonesia yang ramah, murah senyum. Sedangkan di KL, adalah tabu senyum dengan orang luar atau tidak dikenal. Dikira kita flirting atau suka dengan yang kita ajak senyum. Pengalaman awal di bulan-bulan pertama saya membuat saya perlu menjaga perilaku saya.
Ketiga, kecepatan dalam bekerja. Sering saya dibilang lambat. Padahal maksud saya sopan. Tapi disana tidak dibutuhkan.
Tyas : Di kantor skrg ada orang Indonesia ?
Angga :
Kurang lebih 15-20 orang. Di semua department. Kecuali HR dan office management. Yang banyak marketing, categorisation, coupon, design, IT. Ada yang berkeluarga, ada single fighter. Ada berkeluarga bolak balik Jakarta. Yang berkeluarga belum tentu dengan jabatan tinggi, karena istrinya juga bekerja di Malaysia. Anaknya di berikan sponsor oleh kantor kebetulan Ayahnya di iPrice.
Tyas :
Dari pengalaman Angga, boleh ceritakan hal yang baru yang dirasakan saat awal-awal masuk start up seperti perusahaan yang Angga saat ini bekerja ?
Angga :
Perbedaan kultur, cara bekerja mungkin itu perlu suatu proses pembelajaran sendiri. Saya terbiasa bekerja dengan proses, dimana biasanya belajar kan bisa nanya, berkali-kali. Sedangkan disini saya harus bisa segala sesuatu dengan cepat. Dikasi materi cepet, know what to do and how to do dengan cepat. Sekali beres. What you expect. Proses belajar harus lebih cepat. Itu yang harus saya adaptasi. Jadi self training saya diluar jam kantor. Karena mau nanya kesiapa, teman saya juga ga ngerti. Jadi saya harus self learning.
Tyas :
Bayangan aku, Angga lebih focus ya. Kamu alone disana. What more do you have to do. To whom do I ask. Dulu tinggal nengok kiri kanan, telfon, tinggal nanya. Nah klo kamu bener-bener ga paham, and you cannot ask your friends, who do you ask ?
Angga :
I escalate to my boss. My supervisor. Dengan kondisi saya sudah explore dan mencoba tapi masih tidak bisa, apa yang harus saya lakukan.
Tyas :
Saya kepengen angkat dari iPrice adalah culture dalam bekerja. What do you like about the culture working at iPrice ? Any uniqueness di iPrice yang dapat di bagi untuk dipelajari.
Angga :
Selain flexible. Flexible in work 8-9 hours. As long as you meet the target. Flexible ide dan tidak berpatok pada birokrasi atau SOP. Flexible to explore seluas-luasnya. Asal dapat dipertanggung jawabkan dan ada laporannya. Work at Home sebulan sekali sehari. Work based urgency and importance.
Management terbuka dan open minded in iPrice. No personal judgement. It’s all about your performance.
Rewards. Selain promotion dan kenaikan gaji. Di iPrice ada “Lion and Rooster”. Tiap minggu saat town hall meeting diberi kesempatan bagi para Lions and Rooster untuk berbagi atau sharing baik buruknya dalam minggu ini.
Bagi para Lions, bilamana terdapat keberhasilan atau success atau prestasi dalam bentuk apapun selama seminggu. Tidak selalu management atau team lead saja yang dapat memberikan apreasiasi tapi siapapun dapat memberikan nominasi Lions Reward untuk siapapun yang berpretasi atau melakukan hal yang dianggap luar biasa di satu minggu itu.
Sedangkan rooster, bagi mereka yang membuat kesalahan, tapi bukan berarti tidak dimaafkan. Bedanya, tidak datang dari management atau HR atau supervisor tapi diberikan kesempatan bagi individu yang ingin yang maju kedepan and admit their mistake, share their problems and move on. Showing that mistakes are there for learning. It is okay to do mistake as long as you learn from it. And gives also a lesson to the whole company. Sends a positive message to the whole team.
Tyas :
Menurut saya, untuk Lions Reward is about Value of Appreciation. Dengan harapan mungkin dapat memberikan inspirasi dan semangat bagi semua. Penghargaan tersebut tidak perlu dirasakan atau tunggu 6 bulan saat jadwal assessment atau akhir tahun untuk melihat keberhasilan setiap individu. Dan memberikan atau menularkan semangat positif. Acknowledgement, praises seen by all.
Untuk Roosters, menurut saya, its about fairness. By sharing in front of people mendorong kedewasaan tiap individu terhadap staff. It’s very good ya. Gives a messages to all.
Angga :
Di iPrice juga ada system confession. Mirip system pengakuan. Sebuah platform sharing tentang bagi yang membutuhkan tanpa memberikan data dari siapa yang memberikan informasi tersebut. Anonymous. However, saat team meeting akan di tampilkan di layar. Any dislike, bottleneck problems, individuality problems. Memberi tempat untuk dapat memberi pengakuan atas suatu permasalahan yang dia hadapi atau mendorong orang untuk introspeksi tanpa feeling any pressure and without any details. Moderated by HR. Jadi any pelecehan atau yang diluar sopan santun akan pasti di delete. Ada sortir tiap minggu tiap kali sebelum di share dan dibicarakan.
Oh iya, team bonding budget juga ada. Apakah itu buat nonton bareng, makan bareng atau jalan-jalan diberikan budget. Pada dasarnya yang saya rasakan, iPrice is about the people first. I think when people are empowered then they do good work. Motifasi dijaga.
Tyas : Now last are the tips. Bagi tips dong Angga.
Angga :
Research selalu menjadi hal yang paling penting. Dalam hal mencari pekerjaan ada 2 cara sebenarnya untuk mendapatkan sesuai dengan yang kita mau.
Pertama mungkin network. Apabila pertemanan dan kenalan kita bagus, kita bisa mendapat kesempatan dari situ.
Kedua, apabila kita harus self search beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah,
Pertama, melalui search pada situs-situs tempat mencari pekerjaan. LInkedin, jobsdb, dan lainnya. Lalu, search keywords yang berhubungan dengan yang kita mau. Misalnya “Indonesian Speaking” bukan berarti pekerjaan tentang content writer berbahasa Indonesia atau translator atau customer service, tapi bisa juga consulting, atau IT juga ada pilihan project berbahasa Indonesia. Atau tambah keywords berdasarkan pekerjaan yang yang specific yang kita saja yang bisa, memberikan kesempatan yang lebih tinggi.
Kedua, sort by location. Jadi kita mulai dengan “Indonesian Speaking” lalu “Kuala Lumpur” nanti akan menunjukkan pilihan perusahaan sesuai dengan yang kita tertarik.
Tyas :
Tambahan pertanyaan setelah wawancara adalah, karena penasaran, berhubung Angga tergolong millienials. How long would you stay in one company ?
Angga :
Sebenarnya saya akan stay apabila saya bisa meniti karir dengan baik di satu tempat. Tapi memang saya punya mimpi besar atau plan besar. Melalui plan besar itu saya memiliki beberapa target seperti ambil Masters dan melanjutkan karier saya pada tempat yang dapat memberikan pelajaran yang berarti bagi mimpi besar saya kedepannya.
Pada akhirnya saya pun ingin kembali ke Indonesia memberikan semua yang saya pelajari. Membangun Indonesia.

Thank you Angga for your sharing. It was such a fruitful discussion and I am very sure there’s a lot of people out there that would appreciate what you shared. Wish you success in whatever you do in the future. For sure, I will be watching 🙂
Interview ini cukup panjang, tapi saya coba buatkan kesimpulan dalam blog post berikutnya, tips jadi expat di luar negri. Mudah-mudah dapat memberi manfaat ya.
See you guys on my next post !
With all the challenges we’ve met,
Each role has 3 aspects that are essentials to support each brand online presence
We would also require to deliver planning for digital activation for any thematic or tactical needs that are suitable and based on the digital community engagement level at that time.
For content material we partner with the creative divisions mostly for design based content. But for the editorial transcript we manage to produce on our own. So we have also the ability to write and storytelling as we execute to each channels including words for SEO.

I would like to take this opportunity to introduce the digital and social media team members who make it all happened. Due to the change in business strategy at PSF, we are no longer work together as a team. Yet we maintain our friendship. I am very proud as they became their own leader in their own way.







In addition to that, managing digital and social media was that not necessarily only managing the digital channels itself but also managing the people on each channels, their incoming questions, their feedbacks, the voice, networks, the relationships, the perceptions that arise, the discussions, and so on. In this case, the same level of importance is to manage the followers or we can would describe them our audience on each channel. And the way to manage them is similar like handling a community.
Editorial plan management that are centralised are important as we match each brand’s thematic message or campaign that fits in with the aiming and agreed yearly goal or KPI of company. We should always look all the view it in a bigger picture yet develop it suitable for each brand agendas. The goal is to match all correspondences to the same voice consistently. At least for the 1st step, when who we are should represent the digital community that the company or the brand wants to attached, identify the content itself as it the key currency to open doors and building a strong platform for its online presence, through communication itself.
We have four pillars to serve. And each pillars has their own initiative activities. From education, women empowerment, entrepreneurship to compassionate relief. Indonesia is a large country with an exception trait and characteristic. Kinship, togetherness, a part of the family. We like to get together. All the time. We love to come together as opposed to standing alone. We love to be associate with a group as part of the family. This is why we have so many sorts of community based activities around Indonesia. And that is also why Indonesia users based on social media are mostly higher than other countries.









To be able to plan and develop anything digital it starts from screening, identifying and understanding all the things, the process of the business, but also to understand the brands, each parts of the organisation, the insights, what is what, why is why and so on.
As digital and social media are only channels based on my learnings this allows me to foresee and understood better, the actualisations of each brand and all supporting functions of the organisation. Understood what is systematically missing.
I was in a situation that I felt compelled to make things better. Or to do the best that I can do. However i was very much supported by the management when it comes to implementation or doing the actual work it becomes tricky and full of challenge. Knowledge management was one of my identification and recommendation that I raised on my first year. Due to many changes happening like staffs turnover or changes in brand identity or change in business strategy of the company. Lesson learned, knowledge management was implemented on my next project at Pita Kuning. This is the same reason why I had to initiate the development of digital and social media guidebook, crisis guidebook and policy. Sometimes, things just needed to be push forward.
And I used this to guide where we were on building digital and social media for the company. At my last year, there are points of stage that has already entering 2nd and 3rd stage. However, some status on the early stages was not entirely there yet.

Next, the
The process of education is not simple at all. Getting people to switch the mindset, making people understand, making people want to learn more. That is another level of strategic planning to do.
Besides all of the above, regularly, we also held some sharing sessions internally for the department of CMC mainly to create a common understanding therefore could drive solution better.
Referring back to Brian Solis 2016 state Digital Transformation, one of the top drivers are new standards in regulatory and compliance. And education alone will not hold out consistencies when in the end ownership of the digital channels should be on the business units or brand itself. We want to make sure we have given also the tools and guidelines as an easy way to look up to anytime and for any needs. Since numerous project was being implemented within each year, again, it is our responsibility to initiate a guide book and policy to manage the level of understanding and consistency within the organisation.
The main objective on this early stage was to be able to do these pointed highlights.





There were times when I just don’t know what to do or how I needed to act upon a situation or a person and was just at a point of exhaustion. Yes, there were some occasions like that. Maybe, it is normal in these situations especially when you are introducing something new. However, for me as long as I am needed, my contributions are perceived as valuable and, I am appreciated for what I do, then there’s no reason to complaint.
Next, 


I also share about why and how to manage based on the size of a community versus how to manage the depth of each opportunity discussion happening on social media on that meeting.
Whereas on social media measurements was a basic introductory about the terminology that usually are used such as conversion rate, impression and its differences in using it on each channel on social media. And then also a bit of quick explanation about CTR, SEM & SEO, CPC and CPM, to cover the just to know basis.
So what was agreed on that management meeting? Not only that all board members have the same understanding and the same commitment, I am asked to prepare what is the next step and also meet with all brands to developments of each digital presence.
It was the emerging time for digital and social media in Indonesia. And possibly the world. Everyone was getting on to jump digital. So it was an exciting time for new opportunities because of the possibilities at that time and the belief that everyone was force to be open minded about anything digital.
Shift on text messaging happening made quite a disruption on Indonesia’s biggest telecommunication company. The digital media landscape, YAHOO! made some investments globally and locally in Indonesia influence the market place and put a positive credence on everybody for the future of digital.
As for new players on Indonesian e-commerce started to bloom through the big guys in Indonesian business from MNC, Djarum and many more.
Everybody wanted to go digital. Massive opening for digital resource. Many opportunities including for me. But the question is, does anyone knows how or what does it takes to transform digital on a corporation? Or does the general people understand the role of a digital and social media manager was at that point. Understanding that each job will be determined based on the needs of each organisation, but the general framework on how to do it, what can people expect, at that time no one has has it.
and the findings on top challenges for digital transformation initiatives.
Next, 





Selain dari itu yang terkait dari pencitraan adalah kepercayaan. We are linked to the people who knows us, trust us, and have an interest in what we do. They stayed connected because they want to know you better. So imagine the opportunity for your company just by your influence alone.