Margareta Astaman, Indonesian millennial competing globally  

click to listen

Mindshift Podcast Episode 5

Melalui episode kali ini saya ingin membawa teman pendengar untuk mengerti lebih dalam proses seorang millennial perpikir, memilih pekerjaan, ikut menentukan arah karirnya melalui percakapan intim, lugas dan apa adanya.

Pengalaman Margie menciptakan kesempatan dan berani menolak saat memang tidak cocok seperti yang sering kita dengar tentang millennial work force tapi prosesnya secara jelas mungkin akan terlihat dalam perbicangan ini. Bagaimana bertahan dalam bekerja. Bagaimana mengambil kesempatan atau perubahan2 yang terus terjadi. Bagaimana menjalankan kehidupan bekerja dan berkarya secara seimbang.

Penulis dengan buku ke 9 yang sedang proses berjalan pernah mendobrak kesempatan dan menjadi Country Chief Editor termuda pada suatu perusahaan digital multinational. That was over 10 years ago. Artinya, Margie berhasil bersaing secara global saat berumur 22 tahun. Sayapun kenal Margie saat bekerja di sebuah e-commerce prioneer pada masanya dulu bernama Multiply.com.

Sekarang, Margie mendirikan dan memiliki jabatan sebagai Managing Director Nusantara Segar Global menjadi importir buah-buahan Indonesia. Suatu bentuk kerja yang jauh dari bayangan dia sama sekali. Memberikan dampak terhadap social economy Indonesia dengan caranya sendiri membuka lahan pekerjaan dan bekerja sama dengan para petani buah-buahan di kota-kota sekunder di Indonesia.

Learning responsibilities and consequences sejak dini dibangun pada akhirnya membuat Margie matang dan terbiasa untuk mempertimbangkan untuk dapat melihat ke masa depan. Terutama dalam hal menjadi perempuan di dunia kerja yang semua itu tidak luput dari bimbingan orangtua. Including retreat from another big opportunity working for a multinational digital company if it does not meet the work expectation she needs.

There are times when one door closes, another door opens. But there are times when you just gotta knock that door open. Because what do you have to loose ?

Bagi yang tertarik mengikuti Margie, silahkan ikuti blognya atau instagramnya .

My dear Margie, thank you so much for always being you. Keep rocking high. Opening the door to world domination. Being a role model for the future of Indonesia. #GirlBoss

 

 

 

 

 

Pilihan untuk mendengarkan Mindshift Podcast antara lain :

Untuk lebih mudahnya cari dengan keyword  Mindshift with Tyas.

Tyas is now Partner Consultant and Trainer on Digital and Social Media at Bangwin Consulting, Freelancer, Writer/Blogger, Podcaster. For project enquiries, tyas@bangwinconsulting.com

multigenerational workforce

How to master multigenerational workforce, by MAZLO.

If we follow this right, we might have a chance in working together in harmony and definite productivity.

The big question is, how can multigenerational workforce work together ?

I am sure with all strength from each generation’s hence uniqueness, greatness is inevitable. If ever we understand each other better.

Imagine that.

Tips jadi expat di luar negri

Bagaimana caranya menjadi expat di luar negri.

Melalui wawancara saya dengan Angga, saya mencoba membuat ringkasan yang dapat dijadikan panduan bagi teman-teman yang ingin bekerja keluar negri dan kesempatan untuk kompetisi secara global.

Saya membagi dalam 2 bagian penting.

  1. Bagaimana caranya
  2. Apa persiapannya

Pertama. Cara.

Dengan banyaknya persaingan, bagaimana kita bisa berbeda dan bersaing saat kesempatan datang pada waktunya.

  • Network

Pertemanan adalah tabungan masa depan. Saya rasa itu dapat dijadikan pertaruhan yang aman. Memiliki banyak teman dibidang apapun, dalam maupun luar negri dapat menjadi modal penting dalam menjadi kesempatan meniti karier. Apalagi bila kita memiliki hubungan yang sangat baik tentunya akan menjadi alasan untuk saling mengingat satu sama lain bilamana ada kesempatan bagus datang. Dan dapat kita akui, terkadang pertemanan yang menyenangkan dapat menjadi alasan untuk bekerja sama.

Pilihan lain adalah dalam mencari network yang effektif. Saat ini banyak sekali pilihan career network yang saling bersaing dengan kelebihan dan kemampuan masing-masing. Career network seperti linkedin, jobsdb, jobstreet, qerja dan lainnya adalah salah satu cara untuk mulai build up your network. Untuk dapat stands out tentu diperlukan upaya tersendiri yang uniquely you as a personal brand that can support professionally and be consistent on all channel.

  • Focus

Saat mencari pekerjaan di career social network kita perlu untuk focus dalam arti pencarian pekerjaan sebaiknya mencerminkan pilihan dan kelebihan kita. Semakin focus, semakin sempit perbedaaan, semakin mempersempit persaingan. Dan itupun sebaiknya tercermin dalam resume kita.

Melalui pencarian di jaringan karir apapun tentunya secara sistematis pencarian pekerjaan ditentukan oleh keywords yang kita isi. Seperti yang disarankan oleh Angga, bermain melalui pencarian keywords yang disesuaikan dengan pekerjaan yang kita minat misalnya “Indonesian Speaking”. Terkadang tidak melulu pekerjaan yang tersedia di area content atau translator tapi banyak sekali pekerjaan yang memerlukan keahlian berbahasa Indonesia. Misalnya, IT karena diperlukan coding program dengan kata kunci bahasa Indonesia atau customer service dan banyak lainnya.

Lalu penambahan kata kunci yang lain disesuaikan dengan minat dan tujuan kita bekerja seperti “location”.

  • Do your homework

Research.

Pelajari lebih dalam dan lebih luas tentang pekerjaan yang kamu pilih. Apa saja yang diperlukan menjadi ideal atas peran dan tanggung jawab pekerjaan yang ditawarkan.

Pelajari perusahaannya, dan industrinya. It would be nice apabila kamu dapat menemukan study case dari competitor atau perusahaan yang akan hire kamu.

Cari study case yang pelajari bagaimana penanggulangannya. Sebanyak mungkin dan seluas mungkin. Semakin luas pengetahuan, semakin dalam detail kamu bisa menjelaskan tentunya akan semakin meyakinkan.

Make a case

Melalui banyaknya study case yang dipelajari, coba untuk membuat berbagai study case dalam berbagai sudut pandang dan kebutuhan dalam pekerjaan tersebut. List down permasalahan dalam pekerjaan atau kebutuhan yang sering diperlukan dalam keseharian pekerjaan dan mencoba untuk menyelesaikan kasus menjadi sebuah solusi dan dengan sebuah ide atau hasil yang dibayangkan akan dapat. Lebih baik lagi apabila kamu dapat menceritakan success story kamu dalam perjalanan karier kamu atau pekerjaan saat ini.

Practice.

Mulai latihan seakan-akan dalam keadaan interview. Coba membayangkan pertanyaan yang akan diajukan dan coba untuk menjawabnya. Badani dengan banyak latihan. Artinya membayangkan, presentasikan, dari awal hingga akhir sesering mungkin. Mencoba berpikir dari sisi yang memberi interview atau perusahaan. Defend your case. Understand what you are talking about hingga penggunaan istilah yang digunakan.

Latih cara berbicara terutama bilamana diperlukan dalam berbahasa Inggris. Tidak perlu ragu atau malu dalam berbahasa asing saat interview. Mereka tahu bahwa itu bukan bahasa utama kita. Yang paling penting you get the message across and they understand. Saya ambil contoh saat Angga di interview langsung oleh CEO walaupun hanya 5 menit. Mungkin benar ingin kenal secara dekat tapi saya merasa mungkin ingin make sure apakah dalam berkomunikasi bisa saling mengerti dan lancar.

Kedua. Persiapan

Menjaga ekspektasi adalah hal yang paling utama melindungi kita dalam kekecewaan atau kesalahan. Karena kita di negri orang, jauh dari rumah atau hal hal yang memberikan kita kenyamanan yang pasti atau kemudahan. Tentunya persiapan adalah hal yang sangat penting dan jangan kita abaikan.

  • Pelajari negaranya

Dengan mempelajari negaranya kita akan mengerti kebutuhannya apa saja yang perlu kita siapkan. Kultur, makanan, gaya hidup, atau bahkan cuaca akan sangat membantu dalam kesiapan kita tinggal di negara asing. Dalam mempelajari hal tersebut kita dapat mempersiapkan diri atas 3 bulan pertama kita disana, makan, tabungan, biaya hidup, kenyamanan dan keamanan hidup di negri orang. Juga mempersiapkan kita atas daftar yang perlu kita tanyakan dan mungkin untuk dapat kita negosiasikan ke pihak yang memperkerjakan kita. Mulai dari visa kerja, gaji, benefit, asuransi, hingga allowence yang dapat membantu kita dalam living cost.

Tiap negara memiliki kultur dan aturan main yang berbeda seperti artikel yang saya temukan disini. Apa yang menjadi kebiasaan di negara satu mungkin berbeda dan menjadi tabu bagi negara lain. Misalnya di negara-negara Eropa bekerja tidak lebih dari 48 jam seminggu sedangkan di Jepang tidur siang selama jam kerja diperbolehkan berhubung jam kerja mereka hingga larut dan uniknya bekerja di Jepang ada penalty bagi overweight workers.

  • Negosiasi

Know your worth. Mungkin bekerja diluar negri lebih flexible dalam negosiasi berdasarkan nilai yang kita bawa. Asalkan kita dapat membuktikan saat interview, beranikan diri untuk memberikan nilai yang terbaik untuk diri kita. It is a business proposition. Semua kerjasama bisnis tentunya memiliki resiko sendiri pada tiap bagian masing-masing. Dan mencukupi kita untuk hidup aman, nyaman dan menabung. Adalah sebuah keseimbangan apakah diambil dari gaji atau dari benefit untuk memenuhi kebutuhan yang kita inginkan. Tidak masalah, asalkan dalam perjanjian kerjasama terasa seimbang. Itu mungkin kuncinya.

  • Straighten up and fly right.

To compete globally kita harus mempersiapkan diri kita untuk bekerja secara professional. Professional itu apa artinya ? Menurut saya, not only you have the ability to deliver your due diligence consistently but understand what does work ethics, maturity level and courtesy means in actualisation. You understand the boundaries are and manage to perform based on the required skill and knowledge of their role.

Focus on your work, work smarter, know how to use your time and energy. Sometimes speed is as important as the quality of your output. As a professional, personal judgement tidak berguna. Semua harus dikembalikan dengan judgement berdasarkan fakta pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki. Professional menurut saya harus terasa seimbang kedua belah pihak.

Dan yang tidak kalah penting adalah mulai berani untuk tampil kedepan, claim your work. Saya ingat salah satu teman saya bercerita atas pengalaman temannya di New York. Karena malu akan bahasa yang terbatas atau dirasa jelek, presentasi yang dia buat dia berikan kepada anak buahnya untuk di presentasikan. Akibatnya, yang mendapat pujian dan promosi adalah anak buahnya. Sayang bukan ?

And in the end, consistently do good. Pergunakan kesempatan dengan baik. After all, you are your work, not your resume. (took that quote from Seth Godin hihihih)

 

Now that you know how to do it and what to prepare. The only person that can formulate your own recipe for success is you.

Now go be awesome !

Interview : Pengalaman Angga menjadi Expat

Interview with Angga Permana. Pengalaman seorang milenial menjadi expat di luar negri.

Cerita kali ini adalah sebuah interview pengalaman Angga menjadi expat di Kuala Lumpur, Malaysia. Sharing kali ini mungkin akan memberi manfaat bagi yang banyak. Bagi teman-teman yang ingin memiliki kesempatan bekerja diluar negri, teman millennial yang ingin compete globally, juga bagi teman HR akan membuka sudut pandang yang menarik dari cerita ini.

Saya mengenal Angga sejak masuk dalam team digital dan social media di Putera Sampoerna Foundation. Dari intern hingga menjadi karyawan tetap dengan posisi Social Media Specialist. Sebuah peran yang tanggung jawab dalam 2 hal yang besar, yaitu content dan pengelolaan channel social media.

Angga pernah aktif di Couchsurfing Writers Club, Rotary in Action (Rotaract) club of Semanggi, komunitas Gerakan Indonesia Berkibar. Sejak lebih dari 2 tahun yang lalu, Angga telah bekerja pada sebuah situs eCommerce bernama iPrice yang bertempat di Kuala Lumpur, Malaysia.

Kali ini dalam kesempatan yang sangat mendadak, saya diajak makan siang bersama. Kebetulan Angga ditengah cuti kembali ke Indonesia mendapat kesempatan untuk berbagi pengalaman bekerja di Luar Negri sebagai Expat bersama Rotaract Semanggi, komunitas kepemudaan dibawah asuhan Rotary chapter Jakarta yang memiliki fokus pada youth empowerment and education.

Karena ada waktu cukup luang antara makan siang dan acara bersama Rotaract saya langsung mencoba kesediannya untuk berbagi dalam wawancara. Saya tertarik untuk wawancara Angga dalam 2 cerita. Pertama, berbagi pengalaman dan tips menjadi Expat dan yang kedua, berbagi pengalaman dalam perannya sebagai Content Lead pada sebuah situs eCommerce, iPrice. Kebetulan saya sedang menulis sebuah pembelajaran yang akan rangkai dalam serial #TyasEcommerceProject. Stay tune for this ya. So, let’s get to it, shall we.

Tyas :

Lets start with why ? Kenapa nih Angga tiba-tiba pengen bekerja  diluar negri? Kenapa di KL, dan apa yang membuat Angga memutuskan dan berani untuk bekerja di luar negri.

Angga :

Sebenarnya ada 2 hal yang mendorong saya untuk mencoba kesempatan ini.

Pertama dalam pencarian pengalaman baru yang bener-bener baru, out of the ordinary, out of comfort zone saya, bahkan kalo bisa sangat berbeda salah satunya yang memiliki culture differences. Makanya saya mencoba-coba mencari pekerjaan di luar negri dalam harapan mendapatkan pengalaman yang sangat berbeda dengan yang saya dapatkan sebelumnya.

Kedua, saya ingin explorasi ilmu yang saya miliki sekarang dengan ilmu baru. Karena sebenarnya role yang pertama saya apply bukan role yang pada akhirnya saya dapatkan. Karena saat saya di hubungi ternyata pekerjaan yang saya apply sudah terisi namun mereka tertarik karena terlihat dari pengalaman saya dalam CV, untuk memberikan kesempatan di posisi content. Editorial, content copywriter.

Tyas :

Ok, Angga punya banyak alasan yang mendorong untuk mencoba bekerja di luar negri. Mandiri, pengalaman baru, kesempatan baru. Tapi apa sih yang membuat Angga yakin, okay sepertinya I am positive and sure to move to KL with iPrice. What makes you certain? Apa pertimbangan utama ?

Angga :

Mungkin pertama tidak bisa saya pungkiri, perbedaan gaji yang sangat beda dengan yang didapatkan di Jakarta. Mungkin karena pengalaman saya menunjukkan juga saya dapat meyakinkan bahwa ilmu sayang saya miliki sangat bermanfaat bagi perusahaan bisa menjadi nilai plus.

Dan saat saya negosiasi. Keberhasilan saya bernegosiasi atas nilai dan value saya. Percuma apabila pengalaman banyak dimana-mana tapi negosiasi tidak berhasil convinced pihak pewawancara maka tidak akan naik kelas atau dibayar 2 kali lipat saja “fine”. Padahal dengan negosiasi kita bisa mendapatkan kesempatan untuk 3 kali bahkan 4 kali lipat. Itu yang mungkin yang membuat saya bener-bener yakin saya pindah.

Tyas :

Kesempatan untuk bargain dan pada akhirnya mendapatkan hasil, a very good deal. Menurut aku, itu jarang sekali dapat kesempatan untuk berbagi.
Karena yang saya bayangkan adalah, kesempatan ini benar-benar purely new to each other. I don’t know you, you don’t know me. So anything is possible. Berapa kali tuh Angga interview, bisa ceritakan prosesnya ?

Angga :    2 kali . Pertama melalui skype dengan VP. Kedua dengan CEO langsung.

Tyas :

Cukup tinggi ya yang meng-interview ya. Baru abis itu dengan HRD. Angga boleh ceritakan apa saja sih yang ditanyakan dan menurut Angga, apa saja yang penting yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semua ? Sangat penting untuk di dorong kedepan pengetahuannya.

Angga :

Pertama, saya ingin menjawab tentang apa saja yang paling penting saat diwawancara.

Research yang mendalam tentang pekerjaan itu sendiri. Kebetulan dalam pekerjaan saya, editorial content itu cukup luas dan terus terang belum memiliki pengalaman yang banyak sehingga saya perlu mempelajari lebih lanjut. Walaupun di pekerjaan sebelumnya memang sebagian dari pekerjaan saya banyak menulis tapi partly untuk artikel publish di website atau editorial social media.

Nah disini lebih complek karena bagaimana saya perlu tahu hubungannya dengan SEO, keywords, and bagaimana content dapat bersaing diantara puluhan ribu artikel yang tersebar di internet dalam tujuan dapat rangking top 10 di google, caranya bagaimana. Maka melalui research saya mencoba melihat beberapa kasus dan mecoba menanggulangi kasus tersebut.

Tyas :       Did you learn by your own ? Making a case and solving it ?

Angga :

Yes. I learn from the internet. In the internet there are so many cases to learn, so I took the cases, and make it my learnings, how to overcome the problem and issues.

Tyas :

Ok, abis itu kamu badanin latihannya ya ? Latihan, coba make a case and share how to solve and defend that case ?

Angga :

Betul. Setelah kita riset, kemudian strategi. Kita perlu menawarkan strategi apa yang perusahaan itu belum terapkan. Dalam rangka apakah strategi itu dapat berhasil atau diterima bagi perusahaan tersebut.

Tyas :       Jadi kayak, I’m going to be a solution for you.

Angga :

Yes. Bukan hanya menerima jobdes aja, tapi kita juga memberikan solusi for the company.

Nah, abis itu pastinya perusahaan akan memberikan challenge atas case yang sedang dibicarakan, nah sebeberapa besar kita dapat meyakinkan, misalnya apakah strategi tersebut penting bagi perusahaan tersebut untuk diterapkan saat itu. Apakah cocok dan sesuai dengan model business perusahaan tersebut. Nah itu yang saya maksudkan challenge dan strategi untuk dapat memberikan jawaban yang kreatif.

Tyas :

So you have to make a case, then you have to have a stand point, dan tahu bagaimana menjawabnya untuk menjadi sebuah solusi.

Angga :

Iya jadi saya mencoba mencari angle sebanyak mungkin pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan. Sebanyak mungkin saya coba untuk dapat siap dengan jawabannya. Jadi saya siapkan potential-potential question and answers yang dapat saya latih sebelum masuk interview.

Tyas :

So, part of your homework was not only doing the research, tapi mencoba semua study case dan mencoba menggodok ulang, membayangkan apa yang akan ditanyakan mereka dan mencoba menjawabnya kembali abis itu kamu coba latihkan kembali melalui membadani kembali. Keren banget !

Angga :

Setelah itu ada indepth interview. Prosesnya debate. Jadi saya harus bisa mempertahankan argument yang saya berikan. Has a firm stand point of my own opinion. Atas suatu fakta yang saya ambil. And then saya kembangkan kembali dengan contoh kasus lagi jadi lebih indepth dan saya kembangkan dan lebih dalam lagi. Nah itu yang sebenarnya mereka cari. Karena disesuaikan dengan market mereka, dan aktualisasi kerja di lapangan.

Tyas :       Saya jadi penasaran apa saja yang ditanyakan oleh VP dan CEO nya saat itu ?

Angga :

Untuk VP, saat itu beliau yang menjadi manager saya langsung. Jadi ini interview  langsung dengan user. Dan karena beliau memang the expert dalam bidangnya, beliau paham bagaimana membuat quality content. Jadi yang ditanyakan adalah strategi konten, khususnya how to craft ideas, in details mulai dari headlines, hingga jumlah kata, keywords, headlines yang cocok, ending closing dan lainnya. Dia pun memberi contoh untuk kita bicarakan bersama dan memberi argumen.

Tyas :

Jadi bener-bener executional ya ? Its not just about the strategi but also how you execute those strategy and how you defend that execution. Nah ditanyakan ga sih ke Angga apakah setelah melakukan strategi hasilnya apa, atau what was your achievement misalnya ?

Angga :

Betul. Dan achievement atau results dari past experience ditanyakan, tapi kebetulan yang ditawarkan berbeda dengan pekerjaan sebelumnya. Jadi saya sempat jelaskan juga bagaimana saya bekerja diperusahaan lama, culture-nya, tapi tidak mendalam, lebih indepth soal pekerjaan yang mau saya dapatkan.

Tyas :       How long does it takes, the interview ?

Angga :

Dengan VP 1 jam, dengan CEO, cuman 5-10 menit krn by phone. Lebih ke pertanyaan apa motivasi, atau lebih pengen tau pribadi saya seperti apa.

Tyas :

Pastinya Angga juga banyak pertanyaan. Did they give you a chance to ask? And what was the questions ?

Angga :

The questions. Knowing it’s a tech start-up so anything can happen. Yang saya tanyakan lebih ke security. How secure is the company. How do they see the company in a few years.

Kedua, kualitas interview bagaimana. Apakah puas atau tidak, apakah saya qualified atau tidak ?

Ketiga, 1 semester pertama, apa yang akan dikerjakan, akan menjadi KPI. Task apa saja yang menjadi challenge.

Tyas :

So you want to show them, that you too want to prepare and want to know more what will be your task.

Angga :

Yes, saya ingin terlihat proactive. Nah setelah itu, saat wawancara VP dia memberikan test. Mulai dari test nulis dalam waktu 3 jam, produksi artikel dengan kualitas yang bagus, lengkap dengan kebutuhannya sesuai dengan actual pekerjaan nantinya. Misalnya research keywords, supaya bisa rangking top 5-10 google. Test reviewing article.

Setelah submit, after 1 mingguan, baru ada info lolos go into the next stage. And then ada clarification dokumen, admin dan lainnya. Lalu berikutnya baru negosiasi gaji, benefit dan lainnya dengan HRD.

Tyas :

Apa saja yang menurut Angga penting dalam hal negosiasi ? Yang sering dilupakan orang.

Angga :

Pertama, visa kerja. Bagaimana prosesnya, apa yang perlu disiapkan, dan lainnya.

Kedua, salary termasuk whole package. For example benefits, seperti insurance, bonus, dan mereka memberikan penjelasan secara details, flexiblitas kerja juga benefits. Annual leaves dan lainnya.

Secara terpisah saya menanyakan kembali perihal living cost dan tempat tinggal apakah diberikan tambahan atau tidak. Dalam pengertian bahwa Angga adalah single dan belum berkeluarga. Bagaimana perihal benefit tempat tinggal, biaya tempat tinggal atau cost living di tanggung iPrice. Apakah juga termasuk dalam package ?

Itu nggak ditanggung mbak, jadi memang kita bayar sendiri dari gaji kita. Tapi memang setiap bulan selalu dapet bonus bulanan. Nah bonus bulanannya itu cukup untuk cover biaya sewa apartment sama ongkos pulang pergi kantor, treatment-nya seperti allowance.

Kalau yang aku dapet itu bonus besarnya 20-25% dari jumlah yang kita dpt setiap bulan, nah bonus ini memang cukup banget untuk bayar tempat tinggal dan ongkos transport. Jadi dari gaji itu paling dipake buat makan, belanja sama nabung sih. Tapi memang biaya pengeluaran terbanyak memang di makan sih.

Karena penasaran saya jadi bertanya, apakah ini termasuk kebijakan yang disesuaikan dengan keuntungan / keadaan perusahaan atau tidak, jadi memang sudah part in benefit.

Betul ini bagian dari kebijakan perusahaan. Setiap department berbeda cara penilaiannya, ada yg memang berdasarkan performance ada juga yang memang udah ditulis di kontraknya.

Tyas :       Bagaimana apabila dibandingkan dengan pengalaman Angga di Jakarta ?

Angga :

In general sama. Beda adalah, mereka berani bayar tinggi karena expektasi ilmu dan knowledge yang saya bawa ke perusahaan. Saya sempat ada beberapa penawaran di Jakarta yang akhirnya saya tinggalkan, karna batasan nilai yang ditawarkan kepada saya atas ilmu yang sama, karena mereka melihat level posisi tanpa melihat skill yang saya tawarkan.

Beda dengan yang sekarang, terlihat semakin skill yang saya tawarkan terlihat bagus dan bermanfaat, semakin flexible. Jadi tidak terpatok akan limit gaji atau posisi.

Tyas :

Kalau kita kacamatanya kita balik ya. Kalo kita lagi di Jakarta, orang dari diluar (maksud saya expat) yang ditawarkan pekerjaan, kan sama persis seperti Angga kan ya. Yang dicari adalah skill. Jadi seharusnya, pertanyaan seharusnya sama. Dan kalo diberikan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, mungkin ada orang Indonesia dengan skill tersebut. Cuman tidak ditanyakan atau tidak dipercaya, misalnya.

Angga :     Betul.

Tyas :

Living abroad. Pastinya Angga punya adjustments. Bulan pertama atau tahun pertama. Boleh di ceritakan proses adjustments di bulan pertama, tahun pertama hingga sekarang. Sekarang Angga udah berapa lama ?

Angga :

Sekarang udah 2 tahun 3 bulan. Sebenarnya perubahan dimanapun selalu ada ya. Perubahan pertama adalah makanan. Beda banget di Indonesia, makanan yang tersedia hambar tidak sekuat rasa makanan yang ada di kita. Jadi saya sulit banget mencari makan diawal saya disana.

Kedua, culture. Indonesia kita mengenal orang Indonesia yang ramah, murah senyum. Sedangkan di KL, adalah tabu senyum dengan orang luar atau tidak dikenal. Dikira kita flirting atau suka dengan yang kita ajak senyum. Pengalaman awal di bulan-bulan pertama saya membuat saya perlu menjaga perilaku saya.

Ketiga, kecepatan dalam bekerja. Sering saya dibilang lambat. Padahal maksud saya sopan. Tapi disana tidak dibutuhkan.

Tyas :        Di kantor skrg ada orang Indonesia ?

Angga :

Kurang lebih 15-20 orang. Di semua department. Kecuali HR dan office management. Yang banyak marketing, categorisation, coupon, design, IT. Ada yang berkeluarga, ada single fighter. Ada berkeluarga bolak balik Jakarta. Yang berkeluarga belum tentu dengan jabatan tinggi, karena istrinya juga bekerja di Malaysia. Anaknya di berikan sponsor oleh kantor kebetulan Ayahnya di iPrice.

Tyas :

Dari pengalaman Angga, boleh ceritakan hal yang baru yang dirasakan saat awal-awal masuk start up seperti perusahaan yang Angga saat ini bekerja ?

Angga :

Perbedaan kultur, cara bekerja mungkin itu perlu suatu proses pembelajaran sendiri. Saya terbiasa bekerja dengan proses, dimana biasanya belajar kan bisa nanya, berkali-kali. Sedangkan disini saya harus bisa segala sesuatu dengan cepat. Dikasi materi cepet, know what to do and how to do dengan cepat. Sekali beres. What you expect. Proses belajar harus lebih cepat. Itu yang harus saya adaptasi. Jadi self training saya diluar jam kantor. Karena mau nanya kesiapa, teman saya juga ga ngerti. Jadi saya harus self learning.

Tyas :

Bayangan aku, Angga lebih focus ya. Kamu alone disana. What more do you have to do. To whom do I ask. Dulu tinggal nengok kiri kanan, telfon, tinggal nanya. Nah klo kamu bener-bener ga paham, and you cannot ask your friends, who do you ask ?

Angga :

I escalate to my boss. My supervisor.  Dengan kondisi saya sudah explore dan mencoba tapi masih tidak bisa, apa yang harus saya lakukan.

Tyas :

Saya kepengen angkat dari iPrice adalah culture dalam bekerja. What do you like about the culture working at iPrice ? Any uniqueness di iPrice yang dapat di bagi untuk dipelajari.

Angga :

Selain flexible. Flexible in work 8-9 hours. As long as you meet the target. Flexible ide dan tidak berpatok pada birokrasi atau SOP. Flexible to explore seluas-luasnya. Asal dapat dipertanggung jawabkan dan ada laporannya. Work at Home sebulan sekali sehari. Work based urgency and importance.

Management terbuka dan open minded in iPrice. No personal judgement. It’s all about your performance.

Rewards. Selain promotion dan kenaikan gaji. Di iPrice ada “Lion and Rooster”. Tiap minggu saat town hall meeting diberi kesempatan bagi para Lions and Rooster untuk berbagi atau sharing baik buruknya dalam minggu ini.

Bagi para Lions, bilamana terdapat keberhasilan atau success atau prestasi dalam bentuk apapun selama seminggu. Tidak selalu management atau team lead saja yang dapat memberikan apreasiasi tapi siapapun dapat memberikan nominasi Lions Reward untuk siapapun yang berpretasi atau melakukan hal yang dianggap luar biasa di satu minggu itu.

Sedangkan rooster, bagi mereka yang membuat kesalahan, tapi bukan berarti tidak dimaafkan. Bedanya, tidak datang dari management atau HR atau supervisor tapi diberikan kesempatan bagi individu yang ingin yang maju kedepan and admit their mistake, share their problems and move on. Showing that mistakes are there for learning. It is okay to do mistake as long as you learn from it. And gives also a lesson to the whole company. Sends a positive message to the whole team.

Tyas :

Menurut saya, untuk Lions Reward is about Value of Appreciation. Dengan harapan mungkin dapat memberikan inspirasi dan semangat bagi semua. Penghargaan tersebut tidak perlu dirasakan atau tunggu 6 bulan saat jadwal assessment atau akhir tahun untuk melihat keberhasilan setiap individu. Dan memberikan atau menularkan semangat positif. Acknowledgement, praises seen by all.

Untuk Roosters, menurut saya, its about fairness. By sharing in front of people mendorong kedewasaan tiap individu terhadap staff. It’s very good ya. Gives a messages to all.

Angga :

Di iPrice juga ada system confession. Mirip system pengakuan. Sebuah platform sharing tentang bagi yang membutuhkan tanpa memberikan data dari siapa yang memberikan informasi tersebut. Anonymous. However, saat team meeting akan di tampilkan di layar. Any dislike, bottleneck problems, individuality problems. Memberi tempat untuk dapat memberi pengakuan atas suatu permasalahan yang dia hadapi atau mendorong orang untuk introspeksi tanpa feeling any pressure and without any details. Moderated by HR. Jadi any pelecehan atau yang diluar sopan santun akan pasti di delete. Ada sortir tiap minggu tiap kali sebelum di share dan dibicarakan.

Oh iya, team bonding budget juga ada. Apakah itu buat nonton bareng, makan bareng atau jalan-jalan diberikan budget. Pada dasarnya yang saya rasakan, iPrice is about the people first. I think when people are empowered then they do good work. Motifasi dijaga.

Tyas :        Now last are the tips. Bagi tips dong Angga.

Angga :

Research selalu menjadi hal yang paling penting. Dalam hal mencari pekerjaan ada 2 cara sebenarnya untuk mendapatkan sesuai dengan yang kita mau.

Pertama mungkin network. Apabila pertemanan dan kenalan kita bagus, kita bisa mendapat kesempatan dari situ.

Kedua, apabila kita harus self search beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah,

Pertama, melalui search pada situs-situs tempat mencari pekerjaan. LInkedin, jobsdb, dan lainnya. Lalu, search keywords yang berhubungan dengan yang kita mau. Misalnya “Indonesian Speaking” bukan berarti pekerjaan tentang content writer berbahasa Indonesia atau translator atau customer service, tapi bisa juga consulting, atau IT juga ada pilihan project berbahasa Indonesia. Atau tambah keywords berdasarkan pekerjaan yang yang specific yang kita saja yang bisa, memberikan kesempatan yang lebih tinggi.

Kedua, sort by location. Jadi kita mulai dengan “Indonesian Speaking” lalu “Kuala Lumpur” nanti akan menunjukkan pilihan perusahaan sesuai dengan yang kita tertarik.

Tyas :

Tambahan pertanyaan setelah wawancara adalah, karena penasaran, berhubung Angga tergolong millienials. How long would you stay in one company ?

Angga :

Sebenarnya saya akan stay apabila saya bisa meniti karir dengan baik di satu tempat. Tapi memang saya punya mimpi besar atau plan besar. Melalui plan besar itu saya memiliki beberapa target seperti ambil Masters dan melanjutkan karier saya pada tempat yang dapat memberikan pelajaran yang berarti bagi mimpi besar saya kedepannya.

Pada akhirnya saya pun ingin kembali ke Indonesia memberikan semua yang saya pelajari. Membangun Indonesia.

 

Thank you Angga for your sharing. It was such a fruitful discussion and I am very sure there’s a lot of people out there that would appreciate what you shared. Wish you success in whatever you do in the future. For sure, I will be watching 🙂

 

Interview ini cukup panjang, tapi saya coba buatkan kesimpulan dalam blog post berikutnya, tips jadi expat di luar negri. Mudah-mudah dapat memberi manfaat ya.

See you guys on my next post !